Bahasa Inggris Akademik: Beda Banget Sama yang Sehari-hari, Ini Buktinya
Hai, teman-teman. Cerita sedikit ya. Beberapa minggu lalu aku dapat pesan dari junior yang sedang menempuh S2 di luar negeri. Isinya kira-kira begini, “Kak, aku skor IELTS 7,0 lho, tapi esai pertamaku dikomentari dosen: too informal, please revise. Kok bisa ya?”
Dia bingung, dan wajar sih kalau bingung. Bahasa Inggrisnya jelas sudah lumayan. Ngobrol dengan teman dari berbagai negara lancar. Nonton serial tanpa subtitle juga santai. Tapi begitu dituntut menulis esai akademik, langsung tersingkirkan… eh, terkoreksi maksudnya, hehe.
Nah, kalau kamu juga pernah (atau takut) mengalami hal serupa, saya mau bilang dulu: masalahnya biasanya bukan kemampuan bahasa Inggrismu. Masalahnya ada di soal register, yaitu ragam bahasa yang kamu pakai. Dan di artikel ini kita bedah tuntas kenapa bahasa Inggris akademik itu ternyata “negara lain” dari bahasa Inggris sehari-hari, apa saja bedanya, dan cara melatihnya tanpa harus kursus mahal.
Jadi, Bahasa Inggris Akademik Itu Apa Sih?
Kalau mau analogi yang gampang, begini: bahasa Inggris sehari-hari itu seperti pakaian ke pantai. Bebas, santai, yang penting nyaman dan pesannya sampai. Sementara bahasa Inggris akademik itu seperti pakaian kerja atau seragam: ada aturan mainnya, ada standar penilaiannya, dan orang menilai keseriusanmu dari seberapa rapi kamu mengenakannya.
Dengan definisi yang lebih serius: bahasa Inggris akademik (academic English) adalah ragam bahasa Inggris yang digunakan di lingkungan pendidikan tinggi dan dunia riset. Tempat kemunculannya antara lain artikel jurnal, buku teks, esai, tesis, disertasi, sampai presentasi ilmiah. Ragam ini lebih formal, lebih objektif, dan punya konvensi sendiri mulai dari pemilihan kata, struktur kalimat, cara menyusun paragraf, hingga tata cara mencantumkan referensi.
Yang sering bikin kaget adalah: dua-duanya tetap bahasa Inggris, dan perbedaannya tidak mutlak. Para ahli bahasa menyebutnya sebagai satu kesatuan rangkaian (continuum). Tapi dalam praktiknya, ada ciri-ciri yang kalau kamu langgar di tulisan akademik, pembaca (baca: dosen atau reviewer) langsung tahu bahwa kamu belum terbiasa dengan dunia akademik.
| Aspek | Bahasa Inggris Sehari-hari | Bahasa Inggris Akademik |
|---|---|---|
| Tujuan utama | Bertukar informasi, ngobrol | Menyampaikan argumen dan bukti secara objektif |
| Nada dan gaya | Santai, personal, subjektif | Formal, impersonal, hati-hati |
| Kontraksi | Bebas: don’t, can’t, it’s | Dihindari: do not, cannot, it is |
| Idiom dan slang | Sering dipakai | Dihindari karena maknanya bisa ambigu |
| Struktur kalimat | Pendek, sederhana | Lebih kompleks, dengan penghubung seperti however dan therefore |
| Sumber rujukan | Tidak perlu | Wajib mengutip dan mencantumkan referensi |
Tabel di atas kelihatan sederhana, tapi percayalah, justru di situlah letak “jebakan”-nya. Banyak dari kita belajar bahasa Inggris dari film, lagu, dan media sosial. Otomatis kebiasaan santai itu terbawa ke tulisan formal tanpa kita sadari.
Tanda-Tanda Esaimu Masih Terlalu Santai
Berikut beberapa penanda yang paling sering membuat tulisan dinilai kurang akademik. Cek satu per satu, siapa tahu tanpa sadar kamu juga melakukannya.
Pertama, kontraksi. Kata doesn’t memang sah-sah saja di percakapan, tapi di ragam akademik bentuk ini tidak dikenal. Tulislah does not. Kedua, kata-kata terlalu umum seperti thing, stuff, atau a lot of. Kata-kata ini terasa “malas” di mata pembaca akademik karena tidak presisi. Ketiga, penyataan tanpa dukungan. Kalau kamu menulis “everyone knows that…” tanpa rujukan, itu hampir pasti dicoret.
| Frasa Sehari-hari | Versi Akademiknya |
|---|---|
| a lot of | a considerable amount of, numerous |
| get | obtain, acquire, receive |
| stuff, things | materials, elements, factors |
| really big | substantial, significant |
| look into | investigate, examine |
| find out | determine, identify |
| I think that… | This paper suggests that… / The evidence indicates that… |
| nowadays | in recent years, currently |
Academic Word List: Kamus Rahasia Orang Akademik
Sekarang bagian yang menurut saya paling seru: kosakata. Ada satu penelitian yang menurut saya wajib diketahui siapa pun yang ingin kuliah atau menulis dalam bahasa Inggris. Sekitar tahun 2000, Averil Coxhead dari Victoria University of Wellington menganalisis korpus teks akademik dan menyusun Academic Word List (AWL): daftar sekitar 570 keluarga kata yang paling sering muncul di teks akademik lintas disiplin, tapi jarang muncul di percakapan sehari-hari. Daftar lengkapnya bisa kamu lihat di situs resmi Victoria University of Wellington.
Kenapa ini penting? Karena kata-kata dalam AWL muncul berulang kali di jurnal, buku teks, dan esai di hampir semua bidang, dari ekonomi sampai biologi. Kalau kamu mengenal kata-kata ini, membaca paper terasa seperti membaca koran, bukan memecahkan sandi. Beberapa contohnya seperti ini:
| Kata (AWL Sublist 1) | Arti dan Contoh dalam Kalimat |
|---|---|
| analyse | menganalisis → This study analyses the data from three regions. |
| establish | menetapkan, membuktikan → Previous research established a link between diet and health. |
| indicate | menunjukkan → The results indicate a significant increase. |
| approach | pendekatan → This paper adopts a qualitative approach. |
| assume | mengasumsikan → The study assumes that all participants responded honestly. |
| significant | bermakna, signifikan → A significant difference was observed between the two groups. |
Satu catatan biar tidak salah paham: AWL bukan jimat. Riset tentang kosakata akademik menunjukkan kata-kata inti akademik hanya mencakup sebagian kecil dari keseluruhan teks. Selebihnya tetap bahasa Inggris umum. Jadi jangan memaksakan semua jadi kata rumit. Gunakan secukupnya, di tempat yang tepat. Ini seperti memasak: garam yang pas bikin enak, kebanyakan garam hancur semuanya.
Buat Kamu yang Mengejar Beasiswa, Ini Kenapa Penting
Mungkin kamu bertanya, “Aku kan mau ambil beasiswa, bukan jadi penulis jurnal. Perlukah se-serius itu?” Jawaban saya: sangat perlu, dan justru di situlah banyak orang tersaring. Esai beasiswa itu pada dasarnya tulisan semi-akademik. Selektor membaca ratusan esai; tulisan yang rapi, presisi, dan terstruktur otomatis terasa lebih kredibel daripada yang basa-basi dan berputar-putar.
Bukan cuma esai. Sejak proses mengurus LoA dari universitas luar negeri, email ke profesor, sampai sesi wawancara, semuanya menyentuh ragam akademik dalam bentuk yang berbeda-beda. Perhatikan tabel berikut:
| Situasi | Seperti Apa Wujud Ragam Akademiknya |
|---|---|
| Esai beasiswa | Argumen runtut, kata presisi, tanpa basa-basi berlebihan |
| Email ke dosen atau profesor | Sopan, ringkas, jelas maksud dan permintaannya |
| Tesis dan disertasi | Kaidah formal penuh, sitasi rapi, konsisten satu gaya |
| Presentasi dan konferensi | Ragam akademik lisan: formal tapi tetap komunikatif |
| Motivation letter dan LoA | Naskah meyakinkan dengan struktur jelas dan bukti konkret |
Kalau kamu masih mempersiapkan tes dulu, baca juga perbandingan IELTS vs TOEFL untuk beasiswa supaya tidak salah pilih. Dan kalau ingin belajar menulis esai dari nol, panduan cara menulis esai beasiswa yang bikin selektor terkesan sudah pernah saya bahas panjang lebar.
Cara Melatihnya, Tanpa Kursus Mahal
Baik, sekarang bagian praktisnya. Kabar baiknya, bahasa Inggris akademik itu keterampilan, bukan bakat. Artinya bisa dilatih. Berikut urutan latihan yang menurut pengalaman saya paling masuk akal:
- Baca jurnal di bidangmu 15 menit per hari. Jangan buru-buru memahami isinya. Tandai polanya: frasa apa yang berulang, bagaimana kalimat dibuka, bagaimana penulis menyampaikan keraguan.
- Bunuh kebiasaan kontraksi saat menulis formal. Biasakan menulis do not, cannot, it is. Kecil sekali kelihatannya, tapi efeknya besar.
- Pelajari AWL bertahap. Mulai dari sublist 1 yang paling sering muncul. Sepuluh kata per minggu sudah cukup. Dalam setahun kamu hafal semuanya.
- Tulis ulang paragraf blog dalam versi akademik. Ambil satu paragraf artikel santai, lalu ubah jadi ragam formal. Ini latihan konversi register yang paling efektif.
- Bangun “bank frasa” pribadi. Setiap menemukan kalimat keren di paper, salin ke catatanmu. Saat menulis nanti, kamu tinggal meniru polanya, bukan mengarang dari nol.
- Minta umpan balik. Dari dosen, teman yang lebih senior, atau minimal alat pemeriksa tata bahasa. Yang penting tulisanmu dibaca mata selain milikmu.
Lakukan ini konsisten sekitar tiga bulan, dan saya yakin perbedaannya akan terasa. Bukankah lebih baik terlatih dari sekarang daripada kaget seperti junior saya itu?
Baca Juga
- Cara Menulis Esai Beasiswa yang Bikin Selektor Terkesan
- Persiapan Interview Beasiswa: 30 Pertanyaan Paling Sering
- Cara Beradaptasi dengan Budaya Baru saat Studi di Luar Negeri
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah bahasa Inggris akademik hanya soal kosakata saja?
Bukan. Kosakata memang terlihat paling menonjol, tapi struktur kalimat, objektivitas, logika antarparagraf, dan cara mencantumkan rujukan sama pentingnya. Tulisan berkosakata rumit tapi alurnya melompat-lompat tetap dinilai lemah.
Skor IELTS atau TOEFL tinggi berarti otomatis jago academic English?
Tidak otomatis. Tes seperti IELTS memang punya modul akademik, tapi kemapuan berbahasa dan kebiasaan menulis akademik itu dua hal berbeda. Junior saya tadi contohnya: skor tinggi, esai tetap dikoreksi. Kemampuan dasar memudahkan, latihan yang menentukan.
Berapa lama sampai terbiasa dengan ragam akademik ini?
Tidak ada angka pasti karena tiap orang berangkat dari titik berbeda. Yang umum saya dengar, dengan latihan rutin beberapa bulan perubahan mulai terasa, dan setahun latihan serius biasanya sudah cukup nyaman untuk menulis esai atau paper.
Bolehkah memakai kata “I” dalam tulisan akademik?
Tergantung disiplin dan pedoman kampusnya. Di bidang sains dan teknik, penulis cenderung memakai kalimat pasif atau sudut pandang netral. Di beberapa bidang sosial dan humaniora, kata ganti orang pertama justru diperbolehkan, bahkan dianggap lebih jujur. Selalu cek panduan gaya yang berlaku di programmu.
Penutup
Jadi begitu ya teman-teman, bedanya bahasa Inggris akademik dengan yang sehari-hari. Sama-sama bahasa Inggris, tapi konteksnya beda maka kaidahnya ikut beda. Kalau dipikir-pikir sama saja seperti bahasa Indonesia: cara kita mengobrol dengan sahabat dan cara menulis skripsi jelas tidak sama kan? Bahasa Inggris juga begitu.
Kamu sendiri bagaimana? Pernah mendapat komentar too informal dari dosen atau reviewer? Atau lagi mempersiapkan esai beasiswa dan bingung harus mulai dari mana? Ceritakan di kolom komentar ya, siapa tahu pengalamanmu bisa jadi bahan artikel berikutnya. Semangat belajarnya!
