Beasiswa S2 Science and Technology Studies (STS): Kajian Kritis Teknologi

Halo, teman-teman. Jadi kemarin aku baca debat di media sosial soal AI yang katanya bakal “mengambil pekerjaan semua orang”. Satu kubu panik, satu kubu santai banget, dan hampir nggak ada yang menjelaskan kenapa masalahnya sesusah itu. Nah, di situlah aku teringat satu jurusan yang tugasnya persis seperti itu: membedah hubungan antara sains, teknologi, dan masyarakat. Namanya Science and Technology Studies (STS). Dan yang bikin aku pengen nulis artikel ini: jurusan ini jarang banget dibidik anak Indonesia, padahal beasiswanya banyak, kompetisinya tipis, dan relevansinya justru makin gede tiap tahun.

Artikel ini bakal lumayan panjang, hehee. Kita bakal bahas apa itu STS, kenapa kamu harus serius mempertimbangkannya, di mana kampus terbaiknya, beasiswa mana yang realistis untuk WNI, sampai strategi supaya esaimu lolos. Saran aku: seduh kopi dulu, terus baca pelan-pelan.

Apa Itu STS, dan Kenapa Namanya Jarang Kamu Dengar?

Science and Technology Studies itu bidang interdisipliner yang mempelajari gimana sains dan teknologi dibentuk oleh masyarakat β€” dan sebaliknya, gimana sains dan teknologi membentuk masyarakat. Kalau anak teknik belajar gimana cara bikin teknologi, anak STS belajar apa artinya teknologi itu ada di tengah kita. Kok bisa GPS di HP-mu bikin orang berhenti hafal rute? Kok bisa media sosial mengubah cara pemilu berjalan? Kok bisa satu kebijakan vaksinasi bikin negara terbelah dua? Itu semua wilayah STS.

Supaya lebih jelas, beginilah kira-kira cara memandang satu obyek yang sama dari kacamata berbeda:

Obyek Kacamata Teknik/Sains Kacamata STS
ChatGPT Arsitektur model, akurasi, latensi Gimana AI mengubah pekerjaan kreatif, siapa yang untung, siapa yang rugi
Vaksin Efikasi klinis, uji coba Kenapa sebagian orang menolak, gimana kepercayaan publik bekerja
Motor listrik Baterai, daya, efisiensi Siapa yang mengontrol rantai nikel, dampaknya ke desa tambang di Sulawesi
Satelit cuaca Orbit, sensor, resolusi Bagaimana data cuaca memengaruhi petani dan kebijakan bencana

Kamu lihat kan bedanya? Yang satu membangun, yang satu membedah. Dan dunia hari ini kebanjiran teknologi yang dibangun lebih cepat ketimbang dipahami β€” jadi jangan kaget kalau lulusan STS mulai dicari di lembaga riset, regulator, perusahaan teknologi, sampai LSM global.

Kenapa namanya jarang terdengar di Indonesia? Pertama, programnya di kuliah kita masih sedikit β€” paling sering muncul sebagai kajian dalam sosiologi atau filsafat ilmu, bukan sebagai program S2 berdiri sendiri. Kedua, banyak yang mengiranya “jurusan nganggur” karena nggak menghasilkan barang. Padahal, kalau kamu perhatikan, hampir semua policy maker teknologi di negara maju punya latar belakang kajian seperti ini. Kebutuhannya nyata, cuma labelnya yang kurang nendang di pasar Indonesia.

Kenapa Kamu (Ya Kamu) Layak Mempertimbangkannya

Oke, aku jujur dulu. Kalau motivasimu kuliah S2 itu “biar gaji naik dua kali lipat begitu lulus”, mungkin jurusan ini bukan yang paling langsung. Tapi kalau kamu salah satu dari tiga tipe orang ini, STS bisa jadi temuan yang mengubah rencana hidupmu:

  1. Kamu anak sosiologi/antropologi/filsafat/komunikasi yang pengen punya spesialisasi yang tajam dan kekinian, bukan “anak sosi umum”.
  2. Kamu anak teknik/informatika yang mulai muak dengan nuansa tanpa konteks β€” dan pengen paham sisi manusia dari teknologi yang kamu bangun.
  3. Kamu pegiat kebijakan, jurnalis sains, atau pegiat LSM yang butuh amunisi akademik buat mengkritik dan merumuskan kebijakan teknologi.

Nah, lulusan STS itu biasanya ke mana aja? Aku rangkum dari pola karier alumni program-program besar:

arah Karier Contoh Posisi Kenapa STS Pas
Kebijakan publik Analis di kementerian, lembaga riset, think tank Investigasi soal sains dan teknologi memang inti kebijakan hari ini
Perusahaan teknologi Responsible AI, Trust & Safety, researcher Perusahaan besar mulai wajib punya tim etika teknologi
Akademik Dosen, peneliti, lanjut S3 STS adalah pintu S3 yang kuat dan dana risetnya banyak
Media & komunikasi sains Journalis sains, komunikator riset Bisa menerjemahkan riset ke bahasa awam
Organisasi global UNESCO, WHO, bank pembangunan Isu teknologi & pembangunan jadi prioritas

Perhatikan baris kedua, ya. Dulu urusan etika teknologi itu cuma seminar tanggal tua. Sekarang, dengan regulasi AI yang mulai diberlakukan di Eropa dan disiapkan di mana-mana, perusahaan butuh orang yang paham dua bahasa sekaligus: bahasa kode dan bahasa masyarakat. Anak STS persis di persimpangan itu.

Peta Kampus: Di Mana STS Ituh Bagus?

Ini bagian yang paling sering ditanya, dan jawabannya sedikit lebih rumit dari “ikutan ranking”. STS itu mewarisi tradisi berbeda-beda: ada yang kuat di sosiologi ilmu, ada yang condong ke sejarah teknologi, ada yang arah kebijakan. Pilihanmu harus disesuaikan dengan arah riset yang kamu mau, bukan sekadar nama kampus yang paling melegenda.

Universitas Negara Kekuatan Program Catatan untuk WNI
University of Edinburgh (Science, Technology and Innovation Studies) Skotlandia Sosiologi ilmu dan inovasi, salah satu pusat tertua di Eropa Banyak menerima WNI; Chevening cocok di sini
ETH ZΓΌrich / dan kampus-kampus Eropa lain Swiss STS dalam ekosistem teknik top dunia Seleksi ketat, tapi Excellence Scholarship tersedia
University of Vienna & kawasan Eropa Tengah Austria Sejarah dan filsafat sains yang kuat Ernst Mach Grant terbuka untuk S2/S3
Virginia Tech (STS) AS Program doktoral dan S2 yang mapan Fulbright kerap mengirim mahasiswa ke arah kajian ini
Universitas Maastricht Belanda STS & governance of technology StuNed dan OKP relevan untuk profesional

Penting: nama programnya bervariasi β€” kadang disebut “Science and Technology Studies”, kadang “Science, Technology and Innovation Studies”, kadang masuk di bawah “HPS” (History and Philosophy of Science) atau “Innovation Studies”. Jadi waktu kamu mencari, jangan cuma mentok di satu kata kunci. Coba juga: “sociology of science”, “innovation studies”, “history of technology”, “governance of emerging technologies”. Jalur pencariannya jadi jauh lebih luas.

Satu hal yang sering bikin orang salah langkah: STS itu bukan “jurusan sains”, dan penerimaan beasiswanya pun nggak menuntutmu punya publikasi di jurnal teknis. Yang dicari itu kemampuan bertanya. Kalau kamu bisa merumuskan pertanyaan yang tajam tentang satu isu teknologi di Indonesia β€” misalnya gimana kebijakan kendaraan listrik nasional mengubah kehidupan masyarakat penambang nikel di Sulawesi β€” itu bahan bakar riset yang sangat laku di kampus luar negeri.

Beasiswa yang Beneran Bisa Kamu Bidik

Sekarang bagian favorit semua orang: duitnya, hehee. Kabar baiknya, karena STS itu biasanya masuk kategori “social sciences” atau “interdisciplinary studies”, hampir semua beasiswa S2 besar itu pintunya terbuka. Ini peta jalurnya untuk WNI:

Beasiswa Pembiayaan Kecocokan dengan STS Yang Perlu Kamu Siapkan
LPDP Penuh: SPP, uang hidup, keluarga Masuk prioritas riset-nya kalau kamu bingkai ke isu strategis nasional: digitalisasi, energi, pangan Esai kontribusi Indonesia, LoA, IPK dan bahasa sesuai syarat
Chevening (UK) Penuh: SPP, bulanan, tiket Inggris itu rumah tradisi STS; cocok untuk yang punya pengalaman kepemimpinan 2 tahun 4 esai, pengalaman kerja, rencana karier di Indonesia
Fulbright (AS) Penuh plus jaringan alumni Kampus AS dengan program STS mapan bisa jadi tujuan Study objective yang tajam, TOEFL, wawancara ketat
Erasmus Mundus (Eropa) Penuh, multi-kampus Program sains-teknologi-masyarakat lintas negara ada di daftarnya Motivation letter, kadang perlu pengalaman riset
StuNed / OKP (Belanda) Bervariasi, fokus profesional Maastricht dan TU Delft punya kajian governance of technology Pengalaman kerja relevan, surat dari institusi

Strategi paling realistis untuk kebanyakan orang: bidik dua jalur dengan karakter berbeda β€” satu beasiswa negara tujuan (misal Chevening untuk Inggris) dan satu beasiswa pemerintah Indonesia (LPDP). Kenapa dua? Karena siklus dan kriterianya beda, dan kalau satu gugur, kamu masih punya satu peluang hidup di tahun yang sama. Sistemnya seperti menanam dua benih di dua musim: nggak mungkin dua-duanya gagal panen.

Yang Dipelajari di STS: Biar Nggak Salah Bayangan

Biar kamu nggak bayangan kuliahnya cuma “ngobrol-ngobrol soal teknologi”, ini isi kurikulum tipikal program STS di jenjang S2. Ingat, tiap kampus beda-beda detailnya, jadi selalu cek silabus resmi di situs program masing-masing:

  • Teori inti: sosiologi pengetahuan ilmiah, actor-network theory, konsep co-production antara sains dan sosial.
  • Sejarah sains dan teknologi: gimana laboratorium, standardisasi, dan infrastruktur teknologi lahir dan menyebar β€” dari kereta api sampai internet.
  • Metodologi: etnografi lab, wawancara mendalam, analisis arsip, dan kini juga metode digital.
  • Isu kontemporer: etika AI, keadilan iklim, teknologi kesehatan, riset dan pembangunan di negara global selatan.
  • Politik kebijakan: gimana regulasi teknologi disusun, dan siapa yang punya suara di meja itu.

Skripsi β€” atau tesis β€” biasanya berupa riset empiris: kamu memilih satu obyek (misalnya sistem e-wallet di pedagang kaki lima, atau proses pembangunan PLTS di desa terpencil) dan membedahnya dengan pisau teori. Jadi kalau kamu tipe orang yang betah mengobservasi, wawancara, dan baca dokumen tebal, bakatmu bakal terpakai banget.

Strategi Esai: Yang Membedakan Pelamar yang Lolos

Di sinilah bedanya pelamar yang lolos dan yang gugur di tahap esai. Kebanyakan orang menulis esai STS seperti menulis proposal teknik: “Teknologi X penting, saya ingin mempelajarinya, selesai.” Selektor membaca ratusan esai seperti itu. Yang menonjol justru esai yang berangkat dari keheranan.

Contoh nyata: seorang teman yang lolos ke program kajian inovasi di Eropa menulis esainya tentang kenapa petani di daerahnya lebih percaya aplikasi cuaca dari grup WhatsApp ketimbang informasi resmi BMKG. Nggak ada kata “AI” keren-keren, nggak ada jargon. Tapi pertanyaannya tajam, lokal, dan jujur β€” dan itu persis jenis pertanyaan yang bikin dosen STS terhibur membaca. Rumusnya begini:

  1. Mulai dari kasus nyata yang kamu alami sendiri β€” bukan kutipan tokoh dunia.
  2. Ungkapkan pertanyaan kritisnya β€” kenapa fenomena itu terjadi, siapa diuntungkan, siapa terpinggirkan.
  3. Hubungkan dengan teori dan program tujuan β€” sebut kelas, dosen, atau pusat riset yang spesifik di kampus yang kamu lamar.
  4. Tutup dengan rencana kontribusi β€” kebijakan apa yang ingin kamu bantu rumuskan di Indonesia setelah lulus.

Untuk riset tambahan tentang teknologi dan masyarakat, kamu juga bisa mulai dari laman resmi National Science Foundation (NSF) yang punya program hibah khusus bidang Science and Technology Studies β€” berguna buat memahami seberapa seriusnya lembaga riset dunia membiayai kajian ini.

Timeline Persiapan: 12 Bulan yang Rapi

Biar semuanya nggak jadi “kapan-kapan”, aku susun timeline realistis. Asumsinya kamu mulai dari nol dan punya pekerjaan atau kuliah sambilan:

Bulan Fokus Utama Output Nyata
1-2 Riset program & beasiswa, perbanyak bacaan STS dasar Daftar 8-10 kampus + 3 beasiswa target
3-4 Tes bahasa (IELTS/TOEFL) + latihan menulis akademik Skor memenuhi syarat, catatan riset kecil
5-6 Draft esai & riset proposal, kontak alumni Draf esai v1, masukan dari minimal 3 orang
7-8 Pendaftaran kampus & surat rekomendasi Aplikasi terkirim, LoA mulai masuk
9-10 Submit beasiswa, siapkan wawancara Beasiswa masuk tahap seleksi akhir
11-12 Wawancara, visa, persiapan berangkat Keputusan akhir, tiket, akomodasi

Soal biaya hidup, tentu beda-beda tiap kota. Sebagai gambaran kasar, kota-kota universitas di Inggris atau Belanda umumnya butuh anggaran bulanan yang lebih tinggi dibanding kota-kampus di Eropa Tengah seperti Austria atau Polandia β€” dan beasiswa besar biasanya sudah menyesuaikan uang saku dengan biaya kota setempat. Detail angkanya sudah pernah aku bahas di artikel-artikel biaya hidup per kota di situs ini, jadi silakan dibaca-baca juga.

Baca Juga

Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah STS itu jurusan sains?

Bukan. STS mempelajari sains dan teknologi sebagai fenomena sosial β€” pakai metode ilmu sosial dan humaniora, bukan eksperimen laboratorium. Kamu nggak perlu bisa kalkulus tingkat lanjut, tapi kamu perlu nyaman membaca dan menulis banyak.

Lulusan teknik bisa daftar STS?

Sangat bisa, bahkan sering jadi nilai plus. Banyak program justru mencari mahasiswa dengan latar teknis yang ingin memahami konteks sosial dari teknologi. Esaimu tinggal diarahkan ke pertanyaan sosial, bukan soal teknis semata.

Bisa nggak lanjut S3 setelah S2 STS?

Bisa, dan jalurnya kuat. STS adalah bidang riset yang hidup di banyak universitas top, dan latar S2-nya sangat cocok untuk S3 di sosiologi, sejarah ilmu, public policy, atau science and technology policy.

Kerja sambil kuliah bisa?

Tergantung aturan beasiswamu dan negara tujuan. Beasiswa penuh biasanya mensyaratkan fokus studi (dan umumnya melarang atau membatasi kerja), sedangkan beberapa negara mengizinkan mahasiswa internasional bekerja paruh waktu dalam batas jam tertentu. Selalu cek aturan beasiswa dan visa masing-masing sebelum mengambil keputusan.

Apakah STS susah diterima untuk WNI?

Secara kuota, kompetisinya justru lebih ramah dibanding program penuh sesak seperti MBA atau data science. Tantangan utamanya adalah meyakinkan selektor bahwa kamu paham bidang ini β€” jadi baca minimal dua buku pengantar STS sebelum menulis esai.

Buku apa yang bagus buat pemula?

Mulai dari buku pengantar sosiologi sains dan sejarah teknologi yang banyak direkomendasikan program-program STS dunia. Nggak harus buku berat; yang penting kamu mulai terbiasa dengan cara berpikir kritis soal teknologi sehari-hari.

Nah, gimana? Kalau kamu udah sampai sini, kayaknya kamu memang tipe orang yang suka mikir β€” dan STS itu rumahnya orang-orang yang mikir. Kalau masih ragu mau mulai dari mana, tulis aja di komentar: satu fenomena teknologi di sekitarmu yang bikin kamu penasaran. Aku dan pembaca lain bisa bantu kerucutkan jadi topik riset. Sampai ketemu di artikel berikutnya, ya.

Similar Posts