Menerjemahkan Dokumen: Tersumpah vs Bebas, Jangan Sampai Salah Pilih

Hai, teman-teman. Jadi cerita minggu lalu aku dikirimi foto oleh adik kelas. Isinya ijazah SMA dia, terus ada pesan singkat: “Bang, tolong terjemahin dong ke bahasa Inggris, mau daftar beasiswa.” Ya udah, aku pikir gampang, tinggal buka kamus, selesai dalam sembilan menit. Tapi pas mau aku kirim balik, dia malah bales, “eh tapi katanya harus yang tersumpah, ya? Ini yang kamu bikin sah nggak?”

Dan di situlah aku sadar: banyak banget orang yang nggak tahu bedanya terjemahan dokumen tersumpah sama terjemahan bebas. Akhirnya ada yang buang uang ratusan ribu buat hal yang sebenernya nggak butuh tersumpah, ada juga yang kehilangan kesempatan gara-gara dokumennya ditolak karena diterjemahkan pakai cara yang “asal-asalan”. Jadi hari ini aku mau bedah tuntas dua istilah ini. Simak pelan-pelan, ya, karena bedanya tipis di mata, tapi besar banget dampaknya di dunia nyata.

Intinya Begini: Bedanya Ada di Sumpahnya

Oke, biar nggak muter-muter, aku kasih analogi dulu. Bayangkan kamu bikin surat pernyataan. Kamu bisa tulis sendiri di kertas HVS, tanda tangan, selesai. Surat itu sah buat kamu sendiri. Tapi kalau surat itu mau dipakai di depan hukum—misalnya buat urusan tanah atau pengadilan—harus ada yang lebih kuat: materai, legalisir, kadang notaris. Nah, terjemahan juga gitu.

Terjemahan bebas itu terjemahan yang sah di mata kamu (dan mungkin pembaca kamu), tapi nggak diakui di depan instansi resmi. Sedangkan terjemahan tersumpah dikerjakan oleh penerjemah yang sudah melewati ujian dan diambil sumpahnya oleh pejabat berwenang—umumnya Gubernur DKI Jakarta untuk wilayahnya, lewat Surat Keputusan. Artinya, penerjemah itu kan sudah “mengikat diri” secara hukum: kalau dia menerjemahkan dengan asal, tanggung jawabnya ada di sana. Makanya hasil kerjanya pakai stempel, tanda tangan, dan kadang nomor dokumen, sehingga diakui kampus luar negeri, kedutaan, sampai kantor pemerintah.

Aspek Terjemahan Tersumpah Terjemahan Bebas
Legalitas Sah secara hukum, diakui instansi resmi Tidak ada kekuatan hukum
Yang mengerjakan Hanya penerjemah yang sudah disumpah Siapa saja yang bisa bahasa
Bentuk hasil Ada stempel, tanda tangan, sering ada nomor dokumen Dokumen biasa tanpa pengesahan
Kegunaan Daftar beasiswa, visa, kampus luar negeri, urusan legal Baca email, isi form pribadi, pahami isi dokumen
Biaya Lebih mahal Jauh lebih murah, bahkan gratis
Waktu pengerjaan Umumnya 1–3 hari kerja Bisa beberapa menit saja

Kapan Wajib Pakai yang Tersumpah?

Nah, ini pertanyaan paling sering. Jawaban singkatnya: kalau dokumennya akan diserahkan ke pihak resmi yang akan memverifikasi keaslian dokumen itu, wajib tersumpah. Kalau cuma buat kamu pahami isinya, bebas saja.

Contoh nyatanya begini. Ijazah dan transkrip nilaimu mau dikirim ke kampus di Jerman? Kampusnya bakal menyandingkan terjemahan itu dengan dokumen aslinya, jadi terjemahannya harus bisa dipertanggungjawabkan. Kalau mereka menemukan terjemahannya dibuat sendiri pakai Google Translate, hampir pasti ditolak—dan kamu nggak dapat kabar apa-apa, cuma status aplikasi yang mendadak hilang. Kalau sebaliknya kamu cuma mau tahu isi surat tawaran kerja dari luar negeri, buat apa bayar ratusan ribu? Terjemahan bebas sudah cukup banget.

Jenis Dokumen Butuh Tersumpah? Alasannya
Ijazah dan transkrip nilai Ya Kampus dan kedutaan menuntut terjemahan yang sah
Akta kelahiran, kartu keluarga, KTP Ya Dokumen kependudukan untuk visa atau pendaftaran
Surat keterangan kerja atau mahasiswa Ya Sebagai bukti resmi ke pihak luar
Surat rekomendasi dosen Sesuai permintaan kampus tujuan Kadang cukup bahasa aslinya, cek dulu panduan resminya
Esai dan motivation letter Tidak Bukan dokumen resmi, kamu yang menulis langsung
Email, isi website, artikel Tidak Kebutuhan pribadi non-legal

Pokoknya satu kalimat yang harus kamu ingat: yang menentukan bukan dokumennya, tapi siapa yang nanti membacanya. Kalau pembacanya sistem penerimaan universitas atau petugas kedutaan, pakai tersumpah. Kalau pembacanya cuma kamu dan ibu kamu di rumah, bebas saja.

Berapa Biayanya dan Berapa Lama?

Sekarang soal yang bikin dompet gugup. Aku nggak mau ngasih angka seolah-olah bakal sama di semua tempat, karena tiap biro jasa terjemahan punya tarif sendiri dan bahasa yang berbeda-beda tingkat kesulitannya. Tapi biar ada gambaran, berikut kisaran umum yang berlaku di pasaran Indonesia—tetap cek langsung penyedianya, ya, karena bisa naik kalau kamu minta kilat.

Layanan Kisaran Biaya Umum Waktu Pengerjaan
Terjemahan tersumpah bahasa Inggris, per halaman hasil Sekitar Rp75.000–Rp300.000 Umumnya 1–3 hari kerja
Bahasa lain yang lebih jarang (Jerman, Korea, Arab) Lebih tinggi dari bahasa Inggris Bisa lebih lama, tergantung ketersediaan penerjemah
Terjemahan bebas per halaman Mulai puluhan ribu rupiah Bisa selesai sehari
Layanan kilat (express) Plus biaya tertentu dari tarif normal Bisa hitungan jam

Penting dicatat: banyak biro menghitung tarifnya per halaman hasil terjemahan, bukan per lembar dokumen asli. Ijazah yang kelihatan cuma selembar itu biasanya jadi satu halaman, tapi transkrip nilai yang panjang bisa jadi dua-tiga halaman. Jadi sebelum transfer, minta penawaran dulu berdasarkan dokumen kamu yang sebenarnya.

Cara Ngecek Penerjemah Tersumpah Itu Asli

Karena “tersumpah” itu istilah yang gampang diklaim siapa saja di brosur, kamu harus pandai membedakan. Cara paling ampuh itu tiga langkah:

Pertama, minta lihat identitas penerjemahnya—biasanya mereka menuliskan nama, nomor SK pengangkatan, dan stempel pada setiap dokumen hasil. Kedua, cek apakah hasil kerjanya membubuhkan stempel dan tanda tangan penerjemah, karena itu tanda wajib dari terjemahan tersumpah. Ketiga, kalau kamu masih ragu, kamu bisa membandingkan dengan daftar penerjemah tersumpah yang diterbitkan lembaga resmi; misalnya, halaman resmi penerjemah tersumpah di Lembaga Bahasa Internasional FIB UI menjelaskan seperti apa layanan dan jenis dokumen yang ditangani. Kalau biro yang kamu incar nggak berani menunjukkan siapa penerjemahnya, itu lampu kuning yang cukup terang.

Kesalahan yang Bikin Dokumen Kamu Ditolak

Dari banyak cerita yang aku dengar, dokumen terjemahan biasanya ditolak karena hal-hal yang sebenarnya bisa dihindari:

Kesalahan Akibatnya Solusinya
Memakai terjemahan bebas untuk dokumen resmi Dokumen tidak diakui, aplikasi didiamkan Cek dulu syarat penyelenggara sebelum bayar apa pun
Terjemah sendiri lalu minta stempel penerjemah Sering ditolak, penerjemah bertanggung jawab atas hasilnya Serahkan penuh ke penerjemah tersumpah
Salah bahasa sumpah penerjemah Misalnya dokumen Belanda diterjemahkan penerjemah yang disumpah untuk Inggris Pastikan bahasa dokumen cocok dengan bahasa sumpahnya
Terjemahan tidak disandingkan dengan legalisir Beberapa instansi minta dokumen asli yang sudah dilegalisir Urus legalisir dulu, baca panduan legalisir ijazah di artikel lainku

Nah, yang terakhir itu sering banget kelupaan. Beberapa lembaga meminta dokumen aslimu lebih dulu dilegalisir kampus atau dinas, baru kemudian diterjemahkan. Urutannya tertukar, dan kamu harus mengulang dari awal. Kalau kamu masih tahap menyiapkan berkas, artikelku tentang legalisir ijazah untuk beasiswa bisa jadi panduan awal.

Baca Juga

Pertanyaan yang Sering Muncul

Bolehkah aku terjemahkan sendiri ijazahku, lalu minta stempel penerjemah tersumpah?

Umumnya tidak bisa. Penerjemah tersumpah itu bertanggung jawab penuh atas hasil terjemahan di depan hukum, jadi dia hanya mau membubuhkan stempel pada pekerjaan yang dia kerjakan sendiri. Ada sebagian yang mau mengecek ulang terjemahanmu lalu menganggapnya sebagai pekerjaan mereka, tapi itu tetap dihitung sebagai jasa penuh.

Kalau pakai Google Translate lalu diperbaiki, sah nggak?

Buat kebutuhan pribadi, sah-sah saja, bahkan praktis banget. Tapi untuk dokumen resmi, nggak sah. Nama jabatan, istilah hukum, dan format dokumen akademik itu jebakan penerjemahan mesin yang paling sering bikin artinya meleset—padahal di mata pembaca resmi, satu istilah yang salah bisa mengubah makna keseluruhan.

Berapa lama terjemahan tersumpah berlaku?

Umumnya terjemahan tersumpah tidak punya masa berlaku resmi—dia sah selama dokumen aslinya sah. Tapi beberapa instansi atau penyelenggara beasiswa punya aturan sendiri, misalnya meminta terjemahan dibuat maksimal beberapa bulan sebelum pendaftaran. Jadi selalu cek panduan resmi dari lembaga tujuanmu, ya.

Penerjemah tersumpah bisa semua bahasa?

Nggak. Setiap penerjemah tersumpah hanya disumpah untuk pasangan bahasa tertentu, misalnya Indonesia–Inggris. Kalau dokumenmu bahasa Jerman, kamu harus mencari penerjemah yang disumpah untuk Indonesia–Jerman. Jangan asal “yang penting ada stempelnya”.

Oke, teman-teman, sampai sini dulu bedah kita soal terjemahan dokumen tersumpah versus yang bebas. Intanya cuma satu: kenali siapa yang nanti membaca dokumenmu, lalu putuskan. Kalau kamu pernah kejadian dokumen diterjemahkan malah ditolak, atau punya rekomendasi biro yang bisa dipercaya, ceritain dong di kolom komentar. Aku dan pembaca lain pasti senang dapat ilmu dari pengalamanmu. Sampai jumpa di artikel berikutnya.

Similar Posts