GRE untuk Beasiswa S3: Kapan Wajib dan Kapan Nggak Perlu?

Hai, teman-teman. Jadi gini… kemarin aku dikirimi DM panjang lebar, tapi intinya cuma satu pertanyaan: “Kak, aku mau ambil S3 di luar negeri, katanya harus GRE. Itu bener nggak sih? Soalnya temenku S3 di Jepang nggak pernah tes GRE sama sekali.”

Diam-diam aku senyum, karena ini pertanyaan yang jawabannya paling sering bikin orang salah langkah. Ada yang buru-buru bayar tes jutaan rupiah padahal programnya nggak minta GRE. Ada juga yang santai-santai saja, ternyata deadline programnya diam-diam mensyaratkan skor minimum. Dua-duanya rugi, cuma beda jenis kerugiannya, hehee.

Jadi hari ini aku mau bedah tuntas soal tes GRE beasiswa S3: kapan kamu beneran butuh, kapan kamu mendingan skip, dan gimana cara ceknya supaya nggak nebak-nebak.

Jawaban Singkatnya Dulu, Biar Nggak Penasaran

GRE itu tidak wajib untuk semua program S3. Titik. Aturannya per program, bahkan kadang per tahun. Sejak sekitar 2020, banyak banget universitas (terutama di Amerika Serikat) yang melepas syarat GRE karena mereka sadar skor tes standar nggak terlalu bisa memprediksi suksesnya seseorang di riset doktoral. Tapi ada juga program yang sampai hari ini tetap keras kepala minta GRE, bahkan dengan skor minimum.

Jadi kalau ada yang bilang “S3 itu wajib GRE” tanpa menyebut program dan kampusnya, anggap saja itu mitos. Kuncinya satu: buka halaman admissions program yang kamu tuju, dan cari kata “GRE required / optional / not accepted”. Lima menit, lebih murah daripada menyesal.

GRE Itu Sebenarnya Tes Apa?

GRE (Graduate Record Examinations) itu tes standar buat masuk sekolah pascasarjana, terutama di Amerika dan Kanada. Bayangannya kaya TOEFL, tapi yang diukur bukan bahasa Inggris doang β€” ada logika verbal, matematika, dan menulis argumentatif. Versi terbaru (sejak September 2023) udah dipersingkat jadi hampir dua jam saja, jauh lebih manusiawi dibanding format lamanya yang nyaris empat jam.

Bagian Tes Isinya Rentang Skor
Analytical Writing 1 esai pendek (analyze an issue) 0–6 (kelipatan 0,5)
Verbal Reasoning 27 soal, dua section 130–170
Quantitative Reasoning 27 soal matematika dasar sampai menengah 130–170
Durasi total 1 jam 58 menit, sekali duduk β€”

Skornya berlaku lima tahun, jadi kalau kamu kebetulan udah pernah tes waktu S2 dan skornya bagus, besar kemungkinan masih bisa dipakai. Fitur ScoreSelect juga memungkinkan kamu mengirim hanya skor terbaikmu β€” kampus nggak akan tahu percobaan pertamamu sejelek apa, hehee.

Kapan GRE Masih (Sering) Diminta?

Nah, ini bagian yang harus kamu baca pelan-pelan. Meskipun trennya makin longgar, beberapa situasi ini biasanya masih butuh GRE:

Situasi GRE biasanya? Catatan
PhD ekonomi, ilmu politik, atau bidang kuantitatif di kampus AS tertentu Sering wajib Beberapa program bahkan memasang skor minimum, misalnya quant 160 ke atas
Seleksi fellowship atau assistantship di program tertentu Kadang diminta Skor dipakai untuk menyaring kandidat pembiayaan, bukan cuma syarat administrasi
MBA di luar negeri Diterima (alternatif GMAT) Ribuan sekolah bisnis sekarang menerima GRE
Beasiswa yang mensyaratkan admission ke kampus AS dulu Ikut aturan kampus Beasiswanya nggak minta GRE, tapi kampusnya bisa saja minta

Poin terakhir itu yang sering kelewat: beasiswa dan kampus itu dua pihak berbeda. Beasiswa LPDP misalnya tidak mensyaratkan GRE untuk pendaftaran beasiswanya. Tapi kalau kamu diterima LPDP dan mau ngelamar PhD di kampus yang mensyaratkan GRE, ya kamu tetap harus tes GRE untuk memenuhi syarat kampusnya. Logikanya kaya itu.

Kapan GRE Nggak Perlu? (Kabar Baiknya)

Ini kabar baiknya, dan datanya nyata, bukan katanya-katanya. Beberapa kebijakan GRE yang aku temuin di riset ini:

Kampus / Program Kebijakan GRE (admission 2026–2027)
Rice University (umumnya) Tidak mewajibkan GRE, tapi tiap program boleh menyarankan atau mewajibkan (PhD Ekonomi & Ilmu Politik masih wajib)
UT Austin β€” Matematika General GRE di-waive untuk pendaftar Fall 2027; GRE Subject opsional tapi sangat disarankan
Florida State University GRE di-waive untuk mayoritas program master
UC Santa Barbara β€” Bren School GRE di-waive dan bahkan tidak diterima untuk siklus 2026–2027

Lho, kok bisa beda-beda? Iya, memang begitu. Kebijakan GRE itu diambil level departemen, dan bisa berubah tiap tahun. Makanya jangan percaya blog (termasuk blog mana pun, termasuk yang ini, hehee) 100% β€” selalu tutup risetmu di halaman resmi programnya.

Nah, untuk beasiswa-beasiswa besar non-Amerika, GRE umumnya bukan bahasa mereka. Beasiswa Korea (GKS), Jepang (MEXT), Tiongkok (CSC), sampai Erasmus Mundus di Eropa itu fokus seleksinya ke proposal riset, nilai akademik, dan wawancara. Yang mereka butuhkan justru bukti bahasa β€” IELTS atau TOEFL β€” atau proposal yang kuat. Kalau kamu mau belajar cara menulis proposal yang bikin dosen tertarik, aku pernah bahas di panduan research proposal ini.

Skor Berapa yang Aman?

Kalau kamu memang harus ambil GRE, jangan nebak-nebak target. Bandingkan dulu dengan rata-rata peserta tes global:

Bagian Rata-rata peserta Target yang cukup aman
Verbal Reasoning Β±151–152 155+ (lebih tinggi untuk bidang yang padat bacaan)
Quantitative Reasoning Β±157 160+ untuk teknik, ekonomi, data, dan sains
Analytical Writing Β±3,5–4,0 4,0+ (dosen S3 suka lihat ini)

Untuk doktoral, section Analytical Writing sering kurang diperhatikan padahal penting β€” hidup PhD itu 80% menulis, dan adcom tahu itu. Satu hal lagi: untuk S3, GRE biasanya cuma salah satu faktor kecil. Research proposal, publikasi, dan kecocokan dengan supervisor itu bobotnya jauh lebih besar. Kalau kamu belum punya gambaran cara cari pembimbing doktoral, aku pernah tulis panduan mencari supervisor S3 di sini.

Soal Biaya dan Logistik

Jujur ya, GRE itu nggak murah buat kantong mahasiswa. Makanya keputusan “ambil atau skip” ini benar-benar soal uang juga:

Hal Detail
Biaya tes Sekitar US$220-an, bervariasi per lokasi β€” cek harga terkini di situs resmi ETS
Boleh diulang? Bisa, setiap 21 hari, maksimal 5 kali dalam 12 bulan
Masa berlaku skor 5 tahun
Kirim skor ke kampus Beberapa kampus gratis, tambahan bayar per kampus; pakai ScoreSelect untuk kirim skor terbaik saja

Ya, kamu baca benar: dua juta lebih sekali tes. Jadi bayangkan kalau kamu ambil GRE “buat jaga-jaga aha” padahal nggak ada satu pun program tujuanmu yang minta. Itu duit yang bisa jadi biaya two kali tes IELTS, atau satu bulan biaya hidup di negara tetangga. Mendingan dipikir dua kali.

Strategi Memutuskan: Checklist 4 Langkah

Biar gampang, ini urutan berpikir yang aku pakai sendiri kalau dapet pertanyaan soal GRE:

  1. Tulis dulu daftar 3–5 program tujuanmu. Nggak ada daftar = nggak ada keputusan. Ini langkah yang paling sering dilewati orang.
  2. Buka satu per satu halaman admissions-nya. Cari kata GRE. Catat statusnya: required, recommended, optional, atau not accepted.
  3. Kalau semua program bilang tidak perlu β†’ skip GRE. Alokasikan waktumu ke proposal dan publikasi. Selesai.
  4. Kalau ada satu saja yang wajib atau “optional tapi kompetitif” β†’ hitung ulang. Kalau profil akademikmu biasa saja, GRE bagus bisa jadi penyelamat. Kalau profilmu udah kuat, GRE abu-abu bisa di-skip.

Perhatikan juga ya: kata “optional” itu bukan berarti “jangan dikirim”. GRE opsional dengan skor di atas rata-rata itu nilai tambah gratis. GRE opsional dengan skor pas-pasan? Mendingan nggak usah dikirim, karena bisa jadi malah menonjolkan kelemahan.

Baca Juga

Pertanyaan yang Paling Sering Masuk

GRE wajib untuk beasiswa LPDP?

Untuk pendaftaran beasiswanya, LPDP tidak mensyaratkan GRE. Tapi ingat logika dua pihak tadi: kalau kamu lolos LPDP dan kampus tujuanmu mensyaratkan GRE, kamu tetap harus mengurusnya untuk admission kampus. Selalu cek panduan resmi per tahun karena syarat bisa berubah.

Skor GRE-ku biasa saja, masih ada harapan S3?

Ada, dan bahkan banyak. Seleksi doktoral itu holistik: proposal, rekomendasi, pengalaman riset, dan kecocokan riset dengan dosen itu bobotnya jauh lebih besar. GRE bagus itu bonus, bukan tiket ajaib.

Bisa kuliah S3 di Amerika tanpa GRE?

Bisa. Makin banyak program doktoral yang melepas syarat GRE, sebagian bahkan secara resmi tidak menerima skor GRE. Tapi tetap cek program per program, karena kebijakannya beda-beda antar departemen.

Berapa lama persiapan GRE yang realistis?

Umumnya orang butuh sekitar dua sampai tiga bulan persiapan rutin, tergantung baseline matematika dan vocabulary-nya. Karena skornya berlaku lima tahun, ambil jauh sebelum deadline supaya masih sempat retake kalau hasilnya kurang.

Oke deh, gitu dulu bedah kita soal GRE. Kalau kamu lagi di tahap mikir-mikir mau ambil tes atau nggak, ceritain dong situasimu di kolom komentar β€” program apa yang kamu tuju, dan kampusnya bilang apa soal GRE. Siapa tahu aku bisa bantu intip kebijakan kampusnya, hehee. Semoga lancar persiapannya ya!

Similar Posts