Gedung-gedung tinggi di pusat kota Riyadh, Arab Saudi

Biaya Hidup Mahasiswa Indonesia di Arab Saudi: Lebih Murah dari Bayanganmu?

Hai teman-teman. Jadi aku lagi nongkrong di grup alumni, terus ada yang share foto salah satu juniorku yang sekarang kuliah S2 di Riyadh. Yang bikin aku salting bukan fotonya, tapi komen di bawahnya: “wah, di Saudi mah, pasti boncos banget tuh hidupnya.”

Eh, tunggu. Kok bisa ya Saudi langsung dicap mahal padahal yang nulis komen itu belum pernah setahap pun ke sana? Nah, dari situ aku kepikiran buat nulis ini. Biaya hidup mahasiswa Arab Saudi itu salah satu topik yang paling sering salah kaprah. Ada yang sangka semahal Dubai, ada juga yang ngira gratis-total karena “negara minyak”. Dua-duanya nggak sepenuhnya benar. Jadi aku kumpulin angka-angka realistisnya, terus aku breakdown satu-satu biar kamu bisa bayangin sendiri gimana hidup di sana kalau suatu saat dapet beasiswa ke Saudi β€” misalnya lewat jalur Universitas Islam Madinah atau kampus-kampus besar lainnya.

Angka Kasarnya Dulu, Biar Nggak Penasaran

Oke, sebelum panjang lebar, aku kasih patokan kasarnya dulu. Satu Riyal Saudi (SAR) itu sekitar Rp4.300 sampai Rp4.500 β€” kursnya cenderung stabil karena mata uang ini di-peg ke dolar AS di kisaran 3,75 SAR per USD. Tapi tetap cek kurs hari itu sebelum kamu menghitung budget, ya.

Nah, biaya hidup mahasiswa Arab Saudi sangat tergantung satu hal: apakah kamu dapat beasiswa penuh atau mandiri. Ini bedanya jauh banget. Kayak perbedaan naik ojol sama disupir antar jemput, hehee.

Skenario Estimasi per Bulan (SAR) Kira-kira Rupiah
Beasiswa penuh (asrama + stipend dari kampus) 0 – 1.000 0 – Rp4,5 juta
Mandiri di kota besar (Riyadh, Jeddah) 3.000 – 6.000 Rp13 – 27 juta
Mandiri di kota kecil/sedang (Madinah, Dammam) 2.500 – 4.500 Rp11 – 20 juta

Keliatan kan polanya? Kalau kamu masuk lewat beasiswa pemerintah Saudi atau kampus seperti KAUST yang memang terkenal royal sama mahasiswa pascasarjananya, biaya hidup kamu praktis ditanggung: uang saku bulanan, asrama, sampai tiket pesawat pulang setahun sekali. Kasusnya beda total kalau kamu mandiri di universitas swasta. Tapi tenang, itu pun masih lebih masuk akal dibanding kuliah di Eropa Barat.

Kota Menentukan Segalanya

Serius, di Saudi, pilihan kota itu ngaruhnya kayak pilihan kos-kosan di Jakarta vs kota kampus di Jawa Tengah. Riyadh sebagai ibu kota paling mahal, disusul Jeddah. Kota-kota lain jauh lebih ramah di dompet.

Kota Kamar/share apartment (SAR/bulan) Catatan
Riyadh 1.500 – 3.000 Paling banyak kampus besar, tapi sewa paling tinggi
Jeddah 1.400 – 2.500 Kota pelabuhan, suasana lebih santai
Dammam & Khobar 1.200 – 2.000 Dekat KFUPM, area industri, harga lumayan
Madinah 1.000 – 2.000 Lebih tenang dan relatif termurah

Satu tips kecil: kalau kamu bisa dapat kamar di asrama kampus, ambil. Itu satu-satunya cara “memotong” pos pengeluaran terbesar. Banyak kampus negeri Saudi nyediain asrama buat mahasiswa beasiswa, jadi pos sewa ini sering kali benar-benar nol.

Makan: Kabar Baiknya, Semuanya Halal

Nah ini bagian yang paling aku suka. Kalau di negara lain kita harus mikir dua kali “eh ini halal nggak ya”, di Saudi pertanyaan itu nggak pernah ada. Semua makanan halal. Buat mahasiswa Muslim Indonesia, ini semacam hidup di rumah nenek: tinggal makan, nggak perlu tanya-tanya lagi.

Yang menentukan besar kecilnya pos makan cuma satu: masak sendiri atau nggak. Nasi bukhari atau mandi di restoran itu murah-murah amay, tapi kalau tiap hari beli, tetap aja jebol juga. Ini gambarannya:

Pos Makan Harga (SAR) Catatan
Nasi bukhari/ayam mandi pinggir jalan 10 – 20 Porsi besar, sering cukup buat dua kali makan
Belanja groceries masak sendiri (per bulan) 400 – 700 Ayam, beras, sayur, telur β€” jauh lebih hemat
Makan campuran (kadang masak, kadang beli) 800 – 1.500 Realistis buat kebanyakan mahasiswa

Angka masak sendiri itu penting banget ditekankan. Aku pernah lihat teman di Jerman yang bisa nabung dari uang saku beasiswa cuma karena rajin masak. Di Saudi logikanya sama: groceries-nya nggak mahal, terutama ayam dan beras yang justru lebih murah dari di Indonesia kalau dihitung per kilo.

Transport dan Pulsa

Pos ini… jujur saja, paling menyenangkan dibahas. Bensin di Saudi itu harganya sekitar dua riyalan lebih per liter. Dua riyalan! Itu artinya kalau kamu punya teman yang punya mobil, ikut bareng bayar patungan bensin itu nyaris nggak terasa sakitnya di dompet. Bus dan kereta di Riyadh juga makin lumayan, dan paket data seluler kisaran 100–200 SAR per bulan sudah lebih dari cukup buat streaming mukbang kelas berat.

Patokan pos transport buat mahasiswa tanpa mobil: sekitar 120–500 SAR per bulan tergantung seberapa jauh kampus dari kos dan seberapa sering keliling kota.

Yang Bikin Saudi Beda dari Negara Lain

Ada beberapa hal yang bikin hitungan biaya hidup di Saudi nggak bisa disamakan begitu saja dengan negara lain. Ini yang sering luput dari perhitungan calon mahasiswa:

  • Listrik dan AC itu satu paket hidup-mati. Musim panas suhu bisa tembus 45Β°C, jadi AC nyala hampir 24 jam. Untung tarif listrik untuk pemakaian warga masih tersubsidi, tapi tetap masukkan pos 200–500 SAR saat musim panas.
  • Tidak ada pajak penghasilan pribadi. Nggak ada potongan misterius dari stipend atau uang saku. Dapat berapa, dapet berapa.
  • Kerja part time itu umumnya bukan pilihan. Ini jujur saja: izin kerja part-time untuk mahasiswa internasional di Saudi itu sangat terbatas, bahkan praktis sulit. Jadi jangan bikin rencana budget yang andalannya kerja sambil kuliah, ya. Beda sama cerita biaya hidup mahasiswa Indonesia di Malaysia yang masih mungkin nambah dari kerja paruh waktu.
  • Nggak ada pos hiburan mahal kayak bar atau klub. Ala makannya ke bazar, kopi, dan jalan-jalan mall. Secara tidak sadar, ini bikin pengeluaran hiburannya rendah. Cocok buat yang lagi fokus skripsi.

Tips Hemat versi Aku

Dari cerita-cerita senior yang udah lebih dulu di sana, pola hematnya kelihatan banget polanya:

  1. Kejar asrama kampus sejak awal. Ini pembeda terbesar antara budget Rp5 juta dan Rp20 juta per bulan.
  2. Masak bareng teman satu kampus. Belanja groceries rame-rame, masak bergantian. Hemat sekaligus ngobrolnya kebayang ramenya.
  3. Manfaatin program subsidi dan promosi musiman. Banyak kampus dan mal sering ada promo besar waktu event nasional; belanja kebutuhan saat itu bisa jauh lebih murah.
  4. Pilih kota sesuai prioritas. Kalau program studi kamu ada di Madinah atau Dammam, nggak perlu maksa ke Riyadh cuma demi “prestise kota”.

Estimasi Total per Kota

Terakhir, aku rangkumin total bulanan buat skenario mandiri (sewa kamar + makan + transport + pulsa + pribadi). Ini estimasi kasar ya, bukan angka sakral β€” gaya hidup tiap orang beda-beda:

Kota Total Bulanan (SAR) Kira-kira Rupiah
Riyadh 3.500 – 6.000 Rp15 – 27 juta
Jeddah 3.200 – 5.500 Rp14 – 24 juta
Dammam/Khobar 2.800 – 4.800 Rp12 – 21 juta
Madinah 2.500 – 4.300 Rp11 – 19 juta

Kalau kamu dapat beasiswa penuh, silakan coret pos sewa dan kebanyakan pos makan β€” tinggal sisanya yang perlu kamu atur dari stipend. Dan kalau mau bandingkan dengan negara Timur Tengah lain yang juga jadi langganan mahasiswa Indonesia, coba baca artikel biaya hidup mahasiswa Indonesia di Mesir β€” hasilnya mungkin bikin kamu terkejut.

Baca Juga

FAQ: Pertanyaan yang Paling Sering Masuk

Berapa biaya hidup mahasiswa Arab Saudi per bulan?

Untuk mahasiswa mandiri, kisarannya sekitar 2.500–6.000 SAR per bulan (sekitar Rp11–27 juta) tergantung kota dan gaya hidup. Untuk penerima beasiswa penuh yang dapat asrama dan stipend dari kampus, pengeluaran pribadi bisa turun drastis, kadang di bawah 1.000 SAR per bulan.

Apakah kuliah di Arab Saudi gratis?

Bisa iya bisa tidak. Mahasiswa internasional yang diterima lewat jalur beasiswa pemerintah Saudi di kampus negeri umumnya bebas biaya kuliah, dapat stipend bulanan, asrama, bahkan tiket pesawat tahunan. Tapi kalau kamu daftar mandiri ke universitas swasta seperti Alfaisal atau Prince Sultan, biaya kuliahnya sekitar 40.000–80.000 SAR per tahun. Selalu cek halaman resmi kampus untuk angka terbaru.

Bisakah mahasiswa kerja part time di Saudi?

Umumnya tidak. Izin kerja paruh waktu untuk mahasiswa internasional di Saudi sangat terbatas, jadi jangan jadikan penghasilan part time sebagai pondasi rencana keuanganmu. Pastikan sumber dana utama (beasiswa atau dukungan keluarga) sudah cukup sebelum berangkat.

Apa yang paling menguras budget mahasiswa di Saudi?

Urutan pertama jelas tempat tinggal, terutama kalau kamu menyewa sendiri di Riyadh atau Jeddah. Urutan kedua adalah makan kalau kamu jarang masak. Kabar baiknya, pos transport justru paling ringan karena bensinnya murah dan banyak kampus menyediakan layanan antar jemput.

Gimana, masih mikir Saudi itu maha-mahal amat? Semoga angka-angka di atas bikin bayanganmu jadi lebih jelas β€” dan kalau kamu lagi mikirin jalur beasiswanya juga, aku pernah nulis soal beasiswa Universitas Islam Madinah yang bisa jadi pintu masuknya. Kalau kamu punya kakak, teman, atau sepupu yang lagi sekolah di Saudi, aku pengen banget dengar cerita aslinya β€” drop di kolom komentar ya, siapa tahu angka versi mereka lebih seru dari hitunganku. hehee

Similar Posts