Beasiswa Studi Bahasa dan Budaya Jepang: Jalur MEXT dan Monbukagakusho
Halo, apa kabarnya? Jadi gini — kemarin aku nemu chat lama dari juniorku waktu dia masih semester lima. Isinya cuma satu kalimat: “kak, aku ambil minat bahasa Jepang, tapi bingung mau diapain setelah lulus.” Waktu itu aku jawab setengah hati. Eh sekarang dia ngajak ngobrol lagi, katanya mau nyoba beasiswa satu tahun ke Jepang, dan aku jadi yang bingung karena ternyata aku belum pernah nulis panduan lengkapnya di blog ini. Padahal jalurnya jelas ada, dan buat kamu yang studi bahasa Jepang, sastra, budaya, atau minat Jepang di kampus, ini salah satu beasiswa paling “pas seleranya” yang pernah aku lihat.
Jadi artikel ini khusus membahas jalur belajar bahasa dan budaya Jepang lewat beasiswa — terutama beasiswa bahasa Jepang dari pemerintah Jepang yang resmi namanya MEXT Japanese Studies. Kalau kamu sering baca artikel lain di blog ini soal MEXT untuk S1 teknik atau MEXT research student S2/S3, artikel ini beda lagi: ini jalur khusus anak bahasa dan budaya, durasinya satu tahun, dan cara pandangnya pun agak beda. Kayaknya kamu yang dari awal memang jatuh cinta sama huruf kanji atau drama Taiga, wajib baca sampai habis.
Kenapa Jalur “Anak Bahasa” Ini Spesial Banget
Biar gampang, aku pakai analogi dulu. Bayangin kamu pengen belajar masak Padang. Ada dua cara: pertama, kursus masakan umum di Indonesia yang materinya semua masakan Indonesia, lalu Padang cuma satu modul. Kedua, dikirim langsung ke Rumah Makan Padang di Padang selama setahun, belajar dari juragan masaknya, sekalian lihat pembeli asli komplain kalau rendangnya kurang pedas. Mana yang bikin kamu beneran paham? Yang kedua kan? Nah, itu bedanya belajar bahasa Jepang di Indonesia versus hidup setahun di Jepang sebagai penerima beasiswa pemerintahnya.
Yang bikin jalur ini spesial menurut aku ada tiga:
Pertama, targetnya memang kamu. Program ini namanya MEXT Japanese Studies Students, dan dialah jalur beasiswa bahasa Jepang yang paling terkenal di antara semua opsi, dan persyaratannya jelas menyebut pendaftar harus sedang kuliah di program studi yang berhubungan dengan bahasa dan/atau budaya Jepang. Artinya kamu nggak perlu rebutan sama anak teknik yang IPK-nya 3,9 atau anak kedokteran yang lab-nya dari subuh — lawan dalam seleksinya sesama anak bahasa dan budaya. Kolam renangnya kecil, tapi kolamnya memang dibikin buat ikan jenismu.
Kedua, beasiswa ini “bukan gelar, tapi pengalaman”. Kamu nggak pulang bawa ijazah S2. Kamu pulang bawa satu tahun hidup di universitas Jepang, kredit mata kuliah yang bisa di-transfer ke kampus asalmu (ini yang jarang orang tahu — bahasa Inggrisnya credited auditors, kamu daftar sebagai mahasiswa tukar resmi), relasi dosen, kemampuan bahasa yang naik level drastis, dan cerita-cerita yang nggak bisa dibeli. Buat karier penerjemah, pengajar bahasa, analis Jepang, atau riset budaya, itu semua modal keras.
Ketiga, jalannya jelas dan gratis. Biaya kuliah di-univ, uang saku bulanan dibayar, tiket pesawat pulang-pergi ditanggung. Kamu tinggal fokus satu hal: lolos seleksi.
MEXT Japanese Studies: Sekilas Fakta Penting
Sebelum masuk ke detail panjang, ini dulu tabel ringkasan biar kamu dapet gambaran besarnya. Aku suka mulai dari tabel gini karena otakku tipe yang butuh “peta” dulu sebelum nyasar detail, hehe.
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Nama program | MEXT Scholarship – Japanese Studies Students (sering disebut Nihon Kenkyuu Sei) |
| Penyelenggara | Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Olahraga, Sains dan Teknologi Jepang (Monbukagakusho/MEXT) |
| Jalur pendaftaran | Rekomendasi Kedutaan (embassy recommendation) via Kedutaan Besar Jepang di Jakarta |
| Durasi | Sekitar 1 tahun (satu tahun akademik), non-gelar |
| Status di kampus | Mahasiswa tuk / pendengar ber kredit di universitas Jepang |
| Uang saku (indikatif) | Sekitar 117.000 yen per bulan (angka bisa berubah tiap tahun; cek pengumuman resmi terbaru) |
| Tiket pesawat | Pulang-pergi kelas ekonomi ditanggung |
| Target pendaftar | Mahasiswa S1 aktif di jurusan bahasa/budaya Jepang di luar Jepang |
Ada satu hal yang perlu aku garis bawahi dari tabel di atas: non-gelar. Beberapa temanku kecewa waktu tahu, karena mereka berharap pulang jadi master. Tapi kalau dipikir-pikik lagi, setahun di Jepang penuh biaya hidup ditanggung itu justru pintu. Banyak penerima program ini lanjut apply MEXT research student (S2) tahun berikutnya, dan profil mereka udah jauh lebih kuat: ada pengalaman hidup di Jepang, ada profesor yang kenal mereka langsung, ada kemampuan bahasa yang udah teruji. Beasiswa setahun ini sering jadi “anak tangga” yang underrated.
Syarat: Baca Pelan-Pelan, Ini yang Bikin Banyak Orang Salah Paham
Nah sekarang bagian yang harus kamu baca pelan-pelan, karena di sinilah banyak calon pendaftar gugur bahkan sebelum mendaftar: salah paham soal syarat. Aku rangkum dalam tabel berikut, lalu aku bahas yang paling sering ditanyakan.
| Syarat | Detail |
|---|---|
| Kewarganegaraan | WNI (bukan warga Jepang); pendaftar dari negara yang punya hubungan diplomatik dengan Jepang |
| Usia | Umumnya 18–29 tahun pada saat mulai program (cek angka pasti di panduan tahun pendaftaranmu) |
| Status kuliah | Aktif kuliah S1 di universitas di luar Jepang, di program studi bidang bahasa Jepang dan/atau budaya Jepang |
| Lama studi bidang Jepang | Umumnya sudah menempuh studi bidang bahasa/budaya Jepang total minimal 1 tahun pada saat program dimulai |
| Kemampuan bahasa | Kemampuan bahasa Jepang yang cukup untuk mengikuti kuliah dalam bahasa Jepang |
| Kesehatan | Lolos pemeriksaan kesehatan (termasuk tes kesehatan mental) sebelum keberangkatan |
| Angkatan saat pulang | Harus tetap terdaftar sebagai mahasiswa aktif di kampus asal, dan kembali ke kampus asal setelah program selesai |
Yang paling sering ditanyakan itu yang pertama dan ketiga. Aku jawab satu-satu ya.
“Aku kuliah di sastra Inggris tapi ambil bahasa Jepang sebagai mata kuliah pilihan, bisa?” Ini pertanyaan abadi. Syaratnya menyebut bidang studi harus berkaitan dengan bahasa/budaya Jepang, dan umumnya diinterpretasikan sebagai: jurusanmu (atau program/minat resmi di transkripmu) memang bidang studi Jepang, dengan total masa studi minimal satu tahun. Kalau Jepangnya cuma mata kuliah pilihan dua SKS, umumnya kurang memenuhi. Tapi jangan menyerah dari tafsiranku saja — dokumen resmi tahun pendaftaranmu adalah hakim tertinggi, dan kalau ragu, tanya langsung bagian pendidikan KBRI Tokyo atau Kedutaan Jepang di Jakarta. Itu gratis dan mereka biasanya jawab.
“IPK-ku 2,9, atau nggak?” Kabar baiknya, jalur Japanese Studies ini — berbeda dengan MEXT research student yang diutamakan IPK tinggi — secara resmi tidak menetapkan angka IPK minimum yang keras. Seleksinya lebih melihat kesesuaian bidang studi, motivasi, kemampuan bahasa, dan hasil tes tertulis plus wawancara. Jangan salah paham juga ya: “tidak ada minimum” bukan berarti IPK nggak dilihat sama sekali; nilai bahasa Jepang dan konsistensi studi tetap jadi sinyal kuat. Aku pernah bahas strategi serupa di artikel IPK rendah tapi mau beasiswa, prinsipnya sama: menonjolkan apa yang kamu punya, bukan meratapi yang tidak.
“Usiaku udah 28, keburu nggak?” Batas usianya umumnya sampai 29 tahun, tapi inget — angka persisnya (tanggal lahir batasan) ada di pengumuman tiap tahun, dan bisa bergeser. Jangan mengandalkan angka di blog mana pun termasuk blog aku; buka pengumuman resmi saat pendaftaran dibuka.
Isi Paket Beasiswa: Berapa yang Kamu Dapat
Sekarang kita bahas duit. Bukan karena aku materialistis ya, tapi karena menurutku paling tidak adil kalau orang memutuskan mendaftar atau tidak tanpa tahu apa saja yang ditanggung. Ini rinciannya.
| Komponen | Apakah Ditanggung? | Catatan |
|---|---|---|
| Biaya kuliah & biaya masuk universitas | Ya, dibebaskan | Termasuk status pendengar ber kredit di universitas tujuan |
| Uang saku bulanan | Ya | Indikatif sekitar 117.000 yen/bulan; ada tambahan tunjangan daerah untuk wilayah biaya hidup tinggi (umumnya 2.000–3.000 yen) |
| Tiket pesawat | Ya, PP kelas ekonomi | Dari bandara internasional terdekat rumahmu ke bandara tujuan |
| Akomodasi/asrama | Tidak otomatis | Universitas biasanya bantu cari asrama, tapi biayanya ditanggung sendiri dari uang saku |
| Asuransi | Sebagian | Ikut sistem asuransi kesehatan nasional Jepang dengan potongan uang saku; ada program bantuan medis |
| Bahasa Jepang intensif tambahan | Umumnya tidak perlu | Penerima jalur ini diharapkan sudah bisa bahasa Jepang — beda dengan jalur S1 yang dapat tahun persiapan bahasa |
Biar kebayang, uang saku bulanan sekitar 117.000 yen itu kira-kira setara 12–13 juta rupiah per bulan (kurs bergerak, angka ini kasar banget ya). Hidup mahasiswa di kota sedang Jepang bisa makan, bayar asrama, dan transport dengan angka itu kalau gaya hidupnya jalan terus — tidak mewah, tapi tidak seret juga. Aku pernah merinci angka per kota di artikel biaya hidup mahasiswa Indonesia di Jepang, silakan dibandingkan dengan tabel di atas biar bisa ngitung sendiri sisa dan jajanmu.
Tahapan Seleksi dari Awal sampai Keberangkatan
Oke, sekarang kita bedah prosesnya. Jalur ini pakai sistem rekomendasi kedutaan, artinya semua dimulai dari pendaftaran di Kedutaan Besar Jepang (untuk WNI, di Jakarta — dan biasanya bisa lewat pos untuk daerah). Gambaran besarnya begini:
Pertama, pengumuman dibuka dan kamu kirim berkas administrasi: formulir, transkrip, surat keterangan mahasiswa aktif dari kampus, dan dokumen lain sesuai daftar resmi. Kedua, mereka memeriksa berkas dan memilih kandidat yang lanjut. Ketiga, kandidat yang lolos berkas mengikuti tes tulis — biasanya mencakup bahasa Jepang, dan untuk beberapa kasus ada komponen bahasa Inggris. Keempat, yang lolos tes tulis dipanggil wawancara di kedutaan, umumnya sebagian atau seluruhnya dalam bahasa Jepang. Kelima, yang dinyatakan lolos menjadi kandidat penerima dan diarahkan mengurus penempatan universitas plus surat keterangan kelayakan (Certificate of Eligibility) untuk visa. Terakhir: keberangkatan, umumnya sekitar September–Oktober.
Aku pernah nulis panduan timeline 12 bulan yang lebih umum di artikel timeline persiapan beasiswa, tapi untuk jalur ini ritmenya lebih pendek dan lebih padat, jadi aku buat versi tabel khusus di bawah. Catatan penting: kalender pastinya muncul di pengumuman resmi tiap tahun, dan rentangnya bisa meleset beberapa minggu — tabel ini gambaran ritme, bukan janji tanggal.
| Tahap | Kira-kira Kapan (ritme umum) | Yang Kamu Perlu Lakukan |
|---|---|---|
| Pengumuman dibuka | Sekitar awal–pertengahan tahun (sering bulan April–Mei) | Baca panduan resmi tahun itu; siapkan formulir dan transkrip |
| Batas pendaftaran | Beberapa minggu setelah pengumuman | Kirim berkas lengkap sebelum tenggat (jangan di hari terakhir!) |
| Seleksi berkas | Beberapa minggu setelah tutup | Menunggu; sambil latihan bahasa terus |
| Tes tulis | Sekitar pertengahan tahun | Latihan soal bahasa Jepang tahun-tahun sebelumnya; jaga stamina |
| Wawancara | Beberapa minggu setelah tes tulis | Persiapkan motivasi studi, rencana kontribusi, dan Jepang yang sederhana |
| Hasil & penempatan | Beberapa bulan sebelum keberangkatan | Isi preferensi universitas; urus kesehatan dan dokumen |
| Keberangkatan | Sekitar September–Oktober | Kuliah dimulai; selamat menikmati musim gugur pertamamu |
Tes Tulis Bahasa Jepang: Level Berapa yang Aman?
Nah, ini pertanyaan yang paling sering masuk ke inbox aku: “kak, level JLPT berapa yang cukup buat tes tulisnya?” Jawaban jujurku: tidak ada angka resmi, tapi dari pengalaman para senior yang pernah daftar, nyaman banget kalau kamu di sekitar N2 ke atas, dan masih mungkin di N3 yang kuat — tergantung tingkat kesulitan soal tahun itu. Soalnya ya soal bahasa Jepang: kosakata, tata bahasa, bacaan, kadang menulis. Untuk jalur S2 research student yang kusebut di artikel beasiswa MEXT Jepang, bahasa bukan syarat utama; tapi untuk jalur ini, bahasa Jepang adalah medan perang utamanya. Adil kan? Kamu peminat bahasa Jepang, ya diuji bahasa Jepangnya.
| Level Kemampuan (patokan JLPT) | Posisimu di Seleksi | Saran Latihan |
|---|---|---|
| N3 dan di bawahnya | Agak berat untuk tes tulis; fokuskan diri dulu | Tata bahasa inti + kosakata 1.500–2.000 kata; target naik satu level dalam 6–9 bulan |
| N3 kuat | masih masuk akal untuk dicoba kalau bacaanmu bagus | Drill bacaan panjang (choukai/dokkai), tata bahasa N2, latihan soal seleksi tahun lalu |
| N2 | Wilayah nyaman | Perbanyak menulis esai pendek Jepang + simulasi wawancara |
| N1 | Aman untuk bahasa; fokus ke motivasi & wawancara | Latih berbicara akademik dan pengetahuan budaya/kemasyarakatan Jepang |
Satu trik yang menurutku kurang dimanfaatkan: soal seleksi tahun-tahun sebelumnya itu beredar. Senior penerima beasiswa MEXT biasanya menuliskan pengalaman mereka di blog atau forum, kadang lengkap dengan contoh soal dan kesan wawancara. Cari kata kunci seperti “pengalaman seleksi MEXT Japanese Studies” lalu baca tiga sampai lima cerita. Pola soalnya berulang lebih sering daripada yang kamu kira.
Dari Jalur Ini Kamu Bisa Ke Mana Saja Setelahnya
Aku sengaja menaruh bagian karier ini sebelum FAQ, karena ini bagian favoritku. Setahun non-gelar kedengarannya “kurang” cuma kalau kamu berhenti berpikir di kata “non-gelar”. Coba lihat tabel ini — ke mana penerima jalur bahasa ini biasanya mengalir:
| Jalur Setelah Program | Kenapa Realistis |
|---|---|
| Lanjut MEXT research student / S2 di Jepang | Kamu sudah punya jejaring profesor dan rekam jejak hidup di Jepang; banyak penerima jalur bahasa lanjut ke jenjang berikutnya |
| Pengajar bahasa Jepang di Indonesia | Satu tahun imersi nyata adalah bukti kemampuan yang lebih kuat dari sertifikat saja |
| Penerjemah / penerjemah lisan | Portofolio terjemahan dan pendalaman budaya langsung dari sumbernya |
| Perusahaan Jepang di Indonesia | Pengalaman hidup di Jepang sangat dihargai rekruter perusahaan Jepang |
| Riset budaya / pascasarjana bidang studi Jepang | Relasi akademik yang terbangun selama setahun bisa jadi pintu rekomendasi |
Itulah kenapa di awal aku bilang program ini “anak tangga yang underrated”. Banyak yang mengira jalur ini ujungnya kosong karena tidak menghasilkan gelar. Padahal kalau dilihat dari jejak para senior, setahun ini sering jadi titik yang mengubah arah karier mereka. Cuma perlu direncanakan — jangan sampai setahun di Jepang kamu habiskan cuma untuk hal-hal yang bisa dilakukan dari Indonesia.
Alternatif Kalau MEXT Japanese Studies Terasan Sulit
Jujur saja: seleksi ini kompetitif, kuota per negara terbatas, dan kalau tahun ini kamu belum memenuhi syarat studi bidang Jepang, tunggu setahun bisa terasa lama. Tenang, ada pintu lain yang sejalan dengan minat yang sama — dan pintu-pintu ini sering luput:
| Program | Cocok Untuk | Sekilas Isi |
|---|---|---|
| Pertukaran kampus via kampusmu sendiri | Mahasiswa S1 yang universitasnya punya kemitraan dengan universitas Jepang | 1–2 semester di Jepang; biasanya ada program pendukung biaya hidup |
| Beasiswa pertukaran singkat pemerintah Jepang (via rekomendasi universitas) | Mahasiswa berprestasi yang dinominasikan kampus | Program pertukaran singkat dengan bantuan biaya hidup bulanan |
| Beasiswa yayasan & universitas Jepang | Pendaftar yang cocok dengan misi yayasan tertentu | Macam-macam, dari bantuan biaya hidup sampai dukungan penuh; cek lembaga penerima mahasiswa internasional di Jepang |
| Magang & program musim panas di Jepang | Yang ingin rasa Jepang dulu sebelum komit setahun | Magang singkat, summer school, atau program musiman bidang bahasa/budaya |
Poin pentingnya: jangan berhenti di satu pintu. Strategi melamar beberapa jalur sekaligus dengan hati-hati itu bukan rakus, itu sekadar sadar bahwa hasil seleksi tidak pernah di tangan kita. Aku pernah nulis panduan strateginya di artikel melamar 5 beasiswa sekaligus.
Kesalahan yang Paling Sering Membunuh Pelamar
Terakhir sebelum FAQ, izinkan aku mencatat kesalahan yang paling sering kulihat dan dengar dari teman-teman yang pernah gagal — biar kamu tidak mengulanginya:
Yang pertama, kurang yakin bisa Jepang saat wawancara. Wawancara jalur ini umumnya sebagian besar dalam bahasa Jepang. Tidak apa-apa tersandung tata bahasa, yang fatal adalah menjawab separuhnya dengan bahasa Indonesia/Inggris terus — itu menandakan kesiapanmu belum sampai. Kedua, motivasi generik seperti “aku suka anime sejak kecil” tanpa lanjutan akademik. Kalimat itu tidak salah, tapi harus disambung dengan alasan studi: bidang budaya apa yang mau kamu dalami, dan kenapa harus di Jepang. Ketiga, mengabaikan surat keterangan kampus. Kamu butuh surat tanda masih terdaftar sebagai mahasiswa aktif, dan jalur birokrasi kampus itu bisa makan waktu berminggu-minggu kalau kamu mulai telat. Keempat, pasrah sama kosakata tes tapi tidak latihan menulis dan berbicara — padahal dua keterampilan terakhir itu yang menentukan di tahap akhir. Dan kelima: menunda hingga hari terakhir pendaftaran lalu kehabisan waktu memperbaiki berkas yang salah format.
Baca Juga
Kalau kamu masih di tahap menjelajah, beberapa artikel ini aku sarankan baca setelah yang ini:
- Beasiswa MEXT Jepang: Cara Daftar, Syarat, dan Biaya — versi umum semua jalur MEXT, biar kamu paham peta besarnya.
- Tips Mengikuti Virtual Fair dan Education Expo Beasiswa — kedutaan Jepang dan lembaga terkait sering ikut expo seperti ini.
- Gagal Beasiswa Pertama? Ini Langkah Comeback-nya — kalau tahun ini hasilnya belum berpihak padamu.
- Cara Ikut IELTS di Indonesia — untuk jalur lain yang minta bahasa Inggris.
FAQ: Pertanyaan yang Paling Sering Masuk
Apakah beasiswa ini terbuka untuk semua jurusan?
Tidak. Jalur Japanese Studies ini khusus untuk mahasiswa yang bidang studi/jurusannya berkaitan dengan bahasa Jepang dan/atau budaya Jepang, dengan masa studi bidang tersebut umumnya minimal satu tahun. Kalau jurusanmu di luar itu, jalur MEXT yang cocok adalah jalur research student (S2/S3) atau undergraduate (S1) — dua-duanya sudah kubahas di artikel lain di blog ini.
Saya bukan mahasiswa sastra Jepang tapi ambil minat Jepang di kampus, bisa mendaftar?
Tergantung bagaimana minat itu tercatat di transkrip dan program studimu. Panduan resmi bicara soal bidang studi berkaitan bahasa/budaya Jepang dengan total masa studi tertentu — interpretasinya konservatif. Kalau program minatmu resmi tercantum (bukan sekadar mata kuliah pilihan lepas), peluangnya lebih realistis. Bila ragu, tanyakan langsung ke kedutaan sebelum mendaftar; lebih baik malu bertanya lima menit daripada menunggu berkas ditolak dua bulan.
Berapa uang saku yang diterima per bulan?
Sebagai gambaran, uang saku penerima umumnya di kisaran 117.000 yen per bulan (angka indikatif dan dapat berubah setiap tahun), dengan tunjangan daerah tambahan untuk lokasi tertentu. Angka final selalu mengikuti panduan resmi tahun pendaftaranmu — jangan menjadikan angka di blog mana pun, termasuk blog ini, sebagai dasar perencanaan keuangan final.
Apakah harus punya sertifikat JLPT?
Umumnya yang diuji adalah kemampuan bahasa Jepang lewat tes tulis seleksi kedutaan, bukan sekadar sertifikat JLPT. Sertifikat boleh dilampirkan bila diminta dan jelas membantu menunjukkan level, tetapi yang menentukan tetap hasil tes dan wawancara. Patokan kasar yang sering dipakai para senior: nyaman di sekitar N2 ke atas.
Setelah setahun, apakah bisa langsung lanjut S2 di Jepang?
Bisa, dan banyak yang menempuhnya — tetapi bukan otomatis. Kamu tetap harus mendaftar dan lolos seleksi program S2/beasiswa jenjang berikutnya (misalnya jalur MEXT research student). Keuntunganmu: rekam jejak setahun di Jepang, jejaring profesor, dan kemampuan bahasa yang teruji — modal yang sulit ditandingi pendaftar yang belum pernah ke Jepang.
Kapan pendaftarannya biasanya dibuka?
Ritme umumnya: pengumuman sekitar paruh pertama tahun berjalan, seleksi berkas–tes–wawancara berlangsung dalam beberapa bulan, dan keberangkatan sekitar September–Oktober. Karena tanggal pastinya berubah tiap tahun, pasang pengingat untuk rutin mengecek halaman beasiswa Kedutaan Besar Jepang di Indonesia — biasanya dibuka tiap tahun tanpa kecuali.
PENUTUP
Gimana, makin kebayang kan jalurnya? Buat aku, yang paling menarik dari beasiswa bahasa Jepang jalur ini bukan nominal uang sakunya — tapi kejelian orang Jepang mendesain program: mereka mengundang orang yang sudah mencintai bahasa dan budayanya, membayar dia hidup setahun di tengah objek yang dicintainya, lalu mengirimnya pulang untuk jadi jembatan. Kalau kamu membaca artikel ini sampai baris ini, kemungkinan besar kamu memang orang yang mereka cari. Langkah kecil yang bisa kamu lakukan hari ini: cek halaman beasiswa kedutaan, cari dua cerita pengalaman seleksi dari senior, dan mulai jadwal latihan menulis bahasa Jepangmu. Setahun dari sekarang, kamu mungkin sedang menulis pengalamanmu sendiri.
Oh ya, kalau kamu sempat, tulis di kolom komentar ya: kamu ambil studi bahasa Jepang di kampus mana, dan kendala terbesarmu apa — kosakata, biaya tes, atau cuma kurang percaya diri? Aku dan pembaca lain senang banget kalau kita bisa bahas bareng. Sampai jumpa di artikel berikutnya, dan semoga suatu saat nanti aku bisa membaca kisahmu dari Jepang. Semangat!
