IELTS vs TOEFL: Pilih yang Mana untuk Beasiswa?
Seputar ielts vs toefl — ini panduan yang kamu butuhkan. Simak sampai habis ya.
Panduan lengkap seputar ielts toefl ini kami rangkum biar kamu nggak perlu bolak-balik buka sepuluh tab. Simak sampai habis, ya.
- Pertama, Kenalin Dulu: Mereka Ini Sebenarnya Apa?
- Yang Paling Sering Bikin Bingung: Skala Skornya Beda Total
- Bedanya Rasanya di Dalam Ruang Tes
- Terus… Biayanya? (Ini yang Paling Nyeriiit)
- Contoh Nyata: Skor Berapa yang Diminta Beasiswa Populer?
- Konversi Kira-Kira: IELTS Setara TOEFL Berapa?
- Jadi… Pilih yang Mana? (Alur Keputusannya)
- FAQ
Hai teman-teman. Jadi ceritanya begini: kemarin aku nemu chat lama dari temen SMA. Isinya cuma satu kalimat, “eh, mau daftar beasiswa tuh ambil IELTS apa TOEFL sih?” — dan dia nunggu jawabanku selama empat hari karena aku sendiri… bingung jawabnya singkat gimana. Hehee. Bukan karena jawabannya susah, tapi karena jawabannya tergantung beasiswanya yang mana.
Nah, itu sebenarnya inti dari kebingungan ini. IELTS dan TOEFL itu bukan dua merek pasta gigi yang tinggal pilih yang enak. Dua-duanya tes bahasa Inggris, dua-duanya syarat beasiswa, tapi arahnya bisa beda tergantung negara tujuan, beasiswanya, bahkan kampusnya. Makanya di postingan ini aku mau ngebedah pelan-pelan: apa bedanya, skala skornya gimana, berapa biayanya, dan yang paling penting — bagaimana cara milih yang tepat biar nggak uang keluar jutaan buat sertifikat yang ternyata nggak kepake.
Pertama, Kenalin Dulu: Mereka Ini Sebenarnya Apa?
TOEFL itu singkatan dari Test of English as a Foreign Language, dibuat dan dijalankan oleh ETS, lembaga asal Amerika Serikat yang udah beroperasi sejak 1964. Dari sanalah “watak” TOEFL kelihatan: aksen dan gaya bahasanya condong ke bahasa Inggris Amerika, dan memang dari awal dirancang buat calon mahasiswa yang mau sekolah di AS.
IELTS itu International English Language Testing System — dikelola bersama oleh British Council, IDP (ini yang paling gampang ketemu di Indonesia), dan Cambridge. Kebalikannya TOEFL: akarnya dari Inggris, jadi identik dengan Inggris British, dan sangat umung dipakai untuk daftar ke Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Kanada.
Tapi tunggu — sebelum kamu langsung nyimpulin “ya udah kalau mau Amerika TOEFL, kalau mau Inggris IELTS”, aku harus jujur: realitanya sekarang nggak se-kaku itu. Banyak kampus di AS sekarang nerima IELTS, dan banyak kampus di Inggris juga nerima TOEFL. Dua-duanya sekarang diakui secara luas. Jadi garis pembatasnya memudar, dan justru di situ orang sering salah langkah.
Yang Paling Sering Bikin Bingung: Skala Skornya Beda Total
Kalau ada yang bilang “IELTS aku 90” atau “TOEFL-ku 7,5” — itu pasti kebalik, dan kejadian ini… serius, sering banget aku denger. Padahal nggak ada TOEFL 7,5, dan nggak ada IELTS 90. Skalanya beda total gitu sih:
| Aspek | IELTS | TOEFL iBT |
|---|---|---|
| Skala skor | Band 0 sampai 9 (kelipatan 0,5) | 0 sampai 120 |
| Rata-rata skor yang diminta beasiswa/kampus | Band 6,0 – 6,5 (S2/S3 sering 6,5) | 80 – 90 (setara dengan band 6,5 – 7) |
| Ada Speaking? | Ya, langsung ngobrol sama examiner (atau video call) | Ya, rekam jawaban ke komputer |
| Ada Writing? | Ya, 2 task, satu di antaranya tulis esai minimal 250 kata | Ya, 2 task juga |
| Skor per komponen | Listening, Reading, Writing, Speaking masing-masing 0-9, lalu dirata-rata | Masing-masing komponen 0-30, lalu dijumlah |
Nah lo. Jadi pas kamu lihat syarat beasiswa, hal pertama yang harus dicek itu: mereka minta skala yang mana, dan berapa. Jangan sampai kamu udah capek-capek latihan targeting “TOEFL 500” — itu TOEFL ITP skala lama, sedangkan kampus luar negeri kebanyakan minta iBT yang skala 120.
Oh iya, soal TOEFL ITP, aku mau luruskan satu hal lagi karena ini sumber kebingungan nomor satu di Indonesia: TOEFL ITP itu bukan versi “TOEFL yang murah dan sama aja hasilnya”. ITP itu kepanjangannya Institutional Testing Program — artinya dia didesain buat dipakai internal institusi (misalnya syarat lulus kuliah di kampus sendiri, atau seleksi internal beasiswa pemberi ketiga). Untuk mendaftar masuk universitas luar negeri, yang diakui adalah TOEFL iBT. Beberapa beasiswa pemerintah seperti LPDP masih menerima TOEFL ITP untuk tahap tertentu, tapi kalau target akhirnya LoA dari kampus Jepang atau Belanda, kamu hampir pasti akan diminta iBT atau IELTS Academic.
Dan satu lagi yang sering kelewat: masa berlaku keduanya sama, 2 tahun sejak tanggal tes. Jadi kalau kamu ambil tes sekarang “just in case”, dan baru daftar beasiswa 2,5 tahun lagi — sertifikatmu hangus, dan say hello beli tes lagi. Cek tanggalnya selalu di checklist dokumen beasiswamu.
Bedanya Rasanya di Dalam Ruang Tes
Ini bagian yang paling jarang dibahas, padahal ngefuh banget ke hasil. Aku pernah nanya ke dua teman yang beda jalur ini, dan deskripsi mereka juga beda atmosfer.
Yang ambil IELTS bilang pengalamannya lebih “manusiawi”: Speaking-nya dia ngobrol langsung sama examiner yang duduk di depannya (atau lewat video call di beberapa negara, termasuk Indonesia sekarang), jadi kalau dia salah ngomong masih bisa koreksi, senyum, lanjut. Writing-nya ditulis — ya, ditulis tangan kalau kamu ambil versi paper-based. Ada temanku yang bilang tangannya kram setelah satu jam penuh nulis. Hehee.
Yang ambil TOEFL iBT kebalikannya: semuanya di depan komputer, sendirian, pakai headset. Speaking-nya kamu ngomong ke mikrofon sambil ngerasa agak aneh karena di sekitarmu ada 10 orang lain yang juga ngomog ke mikrofon masing-masing. Menurut temanku, butuh latihan khusus biar nggak kepotong konsentrasinya. Tapi kelebihannya, hasilnya objektif dan kamu bisa mikir dulu sebelum ngomong — nggak ada examiner yang menatap.
| Komponen | IELTS Academic | TOEFL iBT | Catatan buat kamu |
|---|---|---|---|
| Durasi total | Sekitar 2 jam 45 menit | Sekitar 2 jam (tanpa pause terlalu lama) | Dua-duanya melelahkan, jangan begadang sebelum tes |
| Listening | Rekaman British/Australian (kadang aksen beragam), jawab sambil dengar | Kuliah gaya Amerika, bisa mencatat sambil dengar | Kalau biasa nonton serial British, IELTS terasa lebih ramah |
| Reading | 3 teks panjang akademik | 3-4 teks, navigasi di layar | TOEFL kadang perlu scroll, latihan baca di layar itu penting |
| Speaking | 11-14 menit, ngobrol sama manusia | Sekitar 17 menit, rekam ke komputer | Kalau gampang gugup ketemu orang, TOEFL bisa lebih nyaman |
| Writing | 2 task (termasuk esai 250 kata) | 2 task | Dua-duanya butuh latihan menulis, bukan cuma mengandalkan template |
| Jenis tes | Academic (kuliah) dan General Training (imigrasi/kerja) | Hanya satu jenis untuk keperluan akademik | Untuk beasiswa: pilih IELTS Academic, jangan General |
Terus… Biayanya? (Ini yang Paling Nyeriiit)
Jujur ya, ini bagian yang bikin aku dulu mikir dua kali. Tes bahasa ini ndak murah. Berdasarkan info yang beredar di penyelenggara di Indonesia, biaya TOEFL iBT di kisaran Rp3,3 – Rp3,4 juta, sementara IELTS di Indonesia berkisar sekitar Rp3 jutaan untuk versi computer-delivered. Angka pastinya berubah-ubah tiap perioda, jadi selalu cek langsung di situs resmi penyelenggara sebelum nabung ya — jangan pegang angka dari blog ini (atau blog mana pun) sebagai kebenaran abadi.
Tapi biar adil, aku juga mau bilang: ada jalur biar nggak bayar sendiri. Beasiswa Australia Awards, misalnya, menyediakan tes IELTS gratis untuk kandidat yang sudah lolos seleksi berkas. Beberapa perusahaan juga men-subsisdi tes untuk karyawannya. Dan buat yang belum yakin mampu, kamu bisa “simulasi” dulu pakai TOEFL ITP yang jauh lebih murah atau prediction test gratis di mana-mana, buat ngukur level dulu sebelum bayar mahal.
| Jenis tes bahasa Inggris | Kisaran biaya di Indonesia (cek resmi!) | Cocoknya buat apa |
|---|---|---|
| IELTS Academic | Sekitar Rp3.000.000-an | Daftar kampus Inggris/Australia/Selandia Baru, dan banyak beasiswa penuh |
| TOEFL iBT | Sekitar Rp3.300.000 – Rp3.400.000 | Daftar kampus AS/Kanada, banyak kampus Eropa juga menerimanya |
| TOEFL ITP | Puluhan sampai ratusan ribu rupiah | Syarat internal kampus, sebagian beasiswa dalam negeri (misal tahap awal LPDP) |
| Prediction test (TOEFL/IELTS) | Gratis sampai ratusan ribu | Ukur level dulu sebelum bayar tes resmi |
Contoh Nyata: Skor Berapa yang Diminta Beasiswa Populer?
Biar makin kebayang, aku rangkum patokan umum yang biasa diminta program-program yang sering dibahas di blog ini. Sekali lagi: angka ini bisa berubah tiap tahun dan tiap gelombang, jadi anggap ini peta kasar, bukan janji.
| Program | Patokan syarat bahasa yang umum diminta | Catatan |
|---|---|---|
| Chevening (Inggris) | IELTS 6,5 overall dengan komponen minimal 5,5 | Kamu bisa mendaftar dulu tanpa skor, tapi wajib lulus sebelum berangkat — cek detail di panduan Chevening yang pernah aku tulis |
| Australia Awards | IELTS 6,5 dengan tiap komponen minimal 6,0 | Tesnya disediakan gratis untuk kandidat yang lolos seleksi berkas |
| StuNed (Belanda) | IELTS Academic umumnya 6,0 – 6,5 tergantung program | Nuffic Neso Indonesia punya info resmi dan kelas persiapan — aku bahas lengkap di artikel StuNed |
| LPDP | Umumnya TOEFL ITP 500-an atau iBT 79-an / IELTS 6,0-an untuk mendaftar, LoA biasanya butuh lebih tinggi | Syarat bahasa bisa berbeda per gelombang, cek buku panduan resminya |
| Kampus Jerman (misal via DAAD) | IELTS 6,0 – 6,5 umumnya | Sebagian program juga menerima bukti lain — cek panduan DAAD yang pernah aku tulis |
Kamu mulai lihat polanya kan? Beasiswa ke Inggris dan Australia hampir selalu menyebut IELTS, sementara yang ke Amerika condong TOEFL iBT, dan beasiswa Indonesia sendiri biasanya lebih fleksibel. Makara langkah pertama yang paling masuk akal bukan “ikut tes dulu” tapi tentukan dulu 2-3 beasiswa target, baru lihat tes apa yang mereka terima. Nggak ada gunanya mengejar skor tinggi di tes yang salah.
Konversi Kira-Kira: IELTS Setara TOEFL Berapa?
Biar kamu bisa “menerjemahkan” lowongan yang menulis TOEFL tapi kamu sudah pegang IELTS (atau sebaliknya), ini patokan konversi resmi yang dipakai banyak institusi:
| IELTS Band | TOEFL iBT setara (patokan umum) | Kesan kasarnya |
|---|---|---|
| 5,5 | 46 – 59 | Cukup untuk beberapa program diploma/S1 sebagian kampus |
| 6,0 | 60 – 78 | Ambang batas minimum banyak beasiswa dan kampus Eropa |
| 6,5 | 79 – 93 | Standar yang paling sering diminta S2 di Inggris/Australia |
| 7,0 | 94 – 101 | Aman untuk kampus-kampus top dan program kompititif |
| 7,5+ | 102+ | Sudah di level nyaman untuk hampir semua syarat |
Catatan kecil: konversi ini patokan resmi dari pemilik IELTS, tapi keputusan akhir tetap di tangan kampus atau penyelenggara beasiswa. Ada kampus yang punya aturan konversi sendiri yang lebih ketat, jadi kalau ragu, kirim email ke admissions office-nya. Aku pernah, dan mereka jawab dengan cepat kok. Nggak ada yang menggigit.
Jadi… Pilih yang Mana? (Alur Keputusannya)
Oke, kita rangkum jadi alur keputusan yang bisa kamu ikuti pelan-pelan:
- Lihat negara tujuanmu dulu. Inggris, Australia, Selandia Baru, Kanada? IELTS biasanya lebih “native” di sana. Amerika Serikat? TOEFL iBT rumahnya. Tapi cek juga kampus spesifikmu — banyak yang menerima dua-duanya.
- Lihat beasiswa yang kamu incar. Kalau targetmu daftar ke beberapa beasiswa sekaligus, cek apakah ada satu tes yang diterima semuanya. IELTS Academic sering jadi “pecah masalah” karena diterima sangat luas.
- Ukur levelmu dulu. Ikut prediction test gratis atau TOEFL ITP murah. Kalau hasilnya masih jauh dari target, tunda dulu booking tes mahalnya — investasi waktu 2-3 bulan latihan itu jauh lebih murah daripada gagal dan bayar lagi.
- Pilih format yang cocok dengan kepribadianmu. Gampang panik ngomong depan manusia? TOEFL. Nulis tangan bikin tangamu ngadeg? IELTS computer-delivered. Kecil tapi nyata pengaruhnya.
- Baru booking, dengan tanggal yang strategis. Jangan tes bulan ini kalau beasiswa yang kamu incar buka daftarnya tahun depan — nanti kedaluwarsa di tengah jalan.
Dan satu tips terakhir yang menurutku paling sering nyelametin orang: kamu nggak harus langsung ikut tes formal untuk mulai belajar. Materi latihan Listening dan Reading banyak yang gratis di internet. Fokus dulu ke komponen yang paling lemah — biasanya Writing — karena di situ bedanya antara band 6,0 dan 6,5 sering cuma soal disiplin latihan.
FAQ
1. Aku udah punya TOEFL ITP 550, bisa dipake daftar beasiswa luar negeri nggak?
Kalau beasiswanya penyelenggara Indonesia (misalnya tahap awal LPDP), sering bisa. Tapi untuk urusan masuk kampus luar negeri, ITP hampir pasti nggak diterima — yang diakui TOEFL iBT. Jadi cek dulu ke beasiswa dan kampus targetmu sebelum mengandalkan ITP.
2. Skor IELTS/TOEFL itu bisa “gabung” dari beberapa kali tes nggak?
Umumnya tidak — skor yang diterima adalah hasil satu sesi tes utuh. Walaupun ada beberapa institusi yang menerima “one sitting only” atau sebaliknya menerima skor komponen terbaik dari beberapa tes (cek kebijakan masing-masing), yang paling aman asumsikan: satu tes, satu hasil.
3. Tesnya bisa diulang kalau skornya jelek?
Bisa, nggak ada batasan resmi jumlah percobaan buat iBT atau IELTS. Tapi ya… dompet kamu yang membatasi. Makanya latihan dulu dengan serius sebelum booking ulang.
4. IELTS General Training bisa buat daftar beasiswa?
Umumnya nggak — untuk keperluan studi, yang diminta IELTS Academic. General Training itu untuk imigrasi/kerja. Mirip tapi beda mamang, dan ini salah langkah yang mahal harganya.
Lanjutkan membaca
Baca Juga
- Cara Daftar Beasiswa LPDP: Panduan Lengkap dari Syarat sampai Seleksi
- Beasiswa Chevening Inggris: Syarat, Biaya, dan Cara Lolos
- Checklist Dokumen Beasiswa: Jangan Sampai Ada yang Ketinggalan
Buat temanku yang nanya lewat chat itu — maaf baru dibalas lewat blog, hehee. Dan buat kamu yang lagi baca: kalau kamu pernah ikut salah satu dari tes ini dan punya cerita (yang lucu maupun yang bikin nangis gara-gara skor), kabari aku ya di kolom komentar. Aku pengin tahu: menurut pengalamanmu, tes yang mana yang lebih “manusiawi”?
Info terbaru selalu di sumber resminya: IDP IELTS Indonesia untuk IELTS dan ETS.org untuk TOEFL.
